Silakan Ngondek, Asalkan…

Bonita“Kok sekarang kamu jadi ngondek gitu sih, Cin…. Ih rempong deh, Bo!”
“ jey kampina deh …..!  Hari gini nggak ngondek nggak gaul, Nek!… makanya belagio donk, yuk cap cuss……..”

Belakangan ini, dialog seperti di atas barangkali sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Tentu saja, tak setiap orang yang mendengarnya mampu memahami beberapa ungkapan yang muncul dalam dialog tersebut. Pasalnya, dialog singkat itu penuh “istilah gaul” yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang dari komunitas tertentu.

Konsekuensinya, orang-orang yang tidak memahami istilah-istilah bahasa dalam suatu komunikasi, mereka akan “terpinggirkan”. Dalam konteks penggunaan bahasa gaul, orang yang tidak memahami bahasa gaul, mau tak mau “terpinggirkan” dan sangat mungkin dianggap kurang  gaul.

Kenapa bisa begitu? Para pakar linguistik sepakat bahwa unsur paling penting sebagai penentu keberhasilan sebuah komunikasi di antara dua orang atau lebih adalah bahasa. Jadi, kalau tidak memahami bahasanya, mana mungkin komunikasi bisa terjalin?
Tapi benarkah bila tidak ngondek maka seseorang itu dianggap tidak gaul? Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita lihat dulu apa yang disebut ngondek.

Ngondek adalah ragam berbahasa kalangan tertentu yang muncul beberapa tahun belakangan. Istilah itu umumnya merujuk pada suatu karakter seseorang dengan ciri tingkah feminim, kemayu, flamboyan atau istilah kerennya lebih dikenal dengan ”melambai”.  Biasanya para “pengondek” itu didominasi oleh kaum transeksual atau gay. Rata-rata mereka bertingkah feminim layaknya wanita baik dalam bicara, berpikir, atau melakukan sesuatu.

Ngondek sendiri berasal dari  berasal dari kata “kondektur”. Maksudnya, kondektur itu punya kebiasaan melambai-lambaikan tangannya untuk menarik penumpang naik ke busnya. Nah, cara para kondektur itulah yang selanjutnya dipakai sebagai analogi untuk para pria dengan ciri ‘’suka” melambai ketika menggerakkan tangan.

Sudah dikenal sejak lama bahwa kaum transeksual itu memiliki cara berbahasa khas yang dalam istilah linguistik disebut prokem. Prokem mereka selanjutnya mendominasi dalam komunikasi di antara orang-orang yang menyebut diri mereka kalangan gaul. Ini sesuai dengan pendapat para pakar linguistik bahwa bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata.

Benar sekali, dengan konsepsi bahwa ‘’asal bisa saling memahami”, ada kecenderungan pada komunitas tertentu memunculkan ragam bahasa yang khas mereka. Ini memang bisa disebut sebuah eksklusivitas dalam berkomunikasi.

Kalau kita melihat asal-muasal bahasa prokem (bahasa ngondek termasuk di dalamnya),  kemunculannya didasari untuk menciptakan eksklusivitas. Ada kecenderungan agar bahasa yang dipakai hanya dipahami oleh kalangan yang eksklusif saja. Dalam hal tertentu, ragam bahasa seperti itu sengaja dimunculkan agar tidak diketahui atau dipahami oleh kelompok di luar kelompok penciptanya.

Begitu pun dalam hal bahasa ngondek, bila dua orang atau lebih telah saling memahami, tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Komunikasi sudah terjalin.

Kesalingpahaman
Lantas, burukkah cara berbahasa ngondek itu? Tentu saja kita tidak bisa mengklaim bahwa salah satu ragam bahasa khas lebih buruk dari ragam bahasa lainnya. Sebab, terjalinnya sebuah komunikasi tidak dilihat dari ‘’buruk-baik”-nya ragam bahasa yang dipakai tetapi dari kesalingpahaman di antara yang berkomunikasi. Jadi, bila satu orang berbicara dengan orang lainnya, dan saling memahami isi komunikasi, tercapailah tujuan komunikasi.

Apalagi memang, fenomena bahasa ngondek, dari sisi linguistik bolehlah dianggap memperkaya ragam berbahasa kita. Itu sama dengan ragam bahasa pergaulan kalangan tertentu lainnya seperti kalangan preman, anak muda yang menyebut diri anak muda gaul, dan sebagainya.

Selain untuk eksklusivitas, ragam bahasa khas juga acap kali dijadikan tengara identitas suatu kelompok atau kalangan atau komunitas tertentu. Hal ini pulalah yang terjadi ketika bahasa ngondek dianggap sebagai identitas kalangan gaul. Konsekuensinya, muncullah anggapan bahwa yang tidak ngondek maka tidak gaul.

Anggapan itu juga tak selalu buruk. Sebab, identitas adalah bagian yang dianggap sangat penting bagi suatu kelompok atau kalangan tertentu. Jadi, kalau kelompok itu mensyaratkan berbahasa ngondek sebagai ciri pergaulannya, maka mau tak mau orang “harus” berbahasa ngondek kalau tidak ingin dicap tidak gaul.

Sudah jadi pemahaman umum bahwa agar seseorang diterima dalam suatu komunitas, kelompok atau kalangan tertentu, ia harus ikut ‘’konvensi” yang ditetapkan di dalamnya. Tak hanya dalam bersikap, cara berbahasanya pun harus ikut kelompok yang bersangkutan.
Maka, saran yang paling bijak adalah: bila suatu komunitas mensyaratkan bahasa ngondek, ya berusahalah mempelajari ragam bahasa tersebut. Sebab, bagaimana pun kita ‘’wajib” menghormati kesepakatan yang telah ditetapkan di dalamnya. Kalau tidak mau, ya jangan sakit hati bila kelompok itu seolah-olah “memminggirkan” kita.

Begitu pula sebaliknya, kelompok pemakai bahasa ngondek seyogianya tidak memaksakan ragam bahasanya ke semua kalangan. Lebih-lebih, mereka harus menyadari bahasa ragam bahasa itu hanya pas dimunculkan di kalangan mereka sendiri. Sebab, pasti akan terasa aneh bila pada acara resmi yang melibatkan banyak kalangan, seseorang memakai bahasa ngondek. Bisa-bisa hanya anggapan nyeleneh yang bakal dia peroleh.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer/
Host “Pilih Pola Sehat” TVB Kompas  setiap Selasa 11.00 – 12.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: