Asyiknya Wisata Budaya dan Belanja di Solo

Kasunanan SoloSurakarta atau sering disebut Solo adalah jiwanya Jawa. Di kota ini berbagai peninggalan sejarah dan budaya masih terawat sampai saat ini. Kemampuan memelihara serta memadukan masa lalu dan masa kini menjadi sebuah potensi pariwisata tersendiri bagi kota yang letaknya sekitar 3 jam perjalanan dari Semarang ini.

Tidak heran jika Solo menjadi salah satu kota andalan bagi Dinas Pariwisata Jawa Tengah untuk menarik wisatawan terutama di Visit Jawa Tengah 2013. Beberapa waktu lalu Dinbudpar Jateng mengajak jurnalis, blogger, dan mahasiswa manca negara untuk mengunjungi langsung berbagai tempat wisata di Solo. Berikut beberapa tempat yang bisa Anda tuju jika mengunjungi kota ini.

Pura Mangkunegaran
Istana Mangkunegaran yang dibangun pada tahun 1757 oleh Raden Mas Said, memiliki dua ruang utama, yaitu Pendopo dan Dalem, yang diapit oleh tempat tinggal keluarga raja. Ruang pendopo yang khas akan menyambut Anda begitu memasuki Pura Mangkunegaran. Pendopo ini berbentuk Joglo dengan empat saka guru atau tiang utama. Bangunan ini tampak khas dan kaya akan nilai budaya Jawa.

Berjalan semakin ke dalam, Anda akan memasuki Dalem, di sini terdapat Pringgitan, ruang dimana keluarga menerima pejabat. Di dalam pringitan, ada beberapa lukisan karya Basuki Abdullah, pelukis kenamaan Solo. Juga ada berbagai koleksi topeng tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, kitab-kitab kuno dari jaman Majapahit dan Mataram, perhiasan emas dan koleksi beberapa potret Mangkunegoro. Koleksi lain juga terdapat di perpustakaan yang disebut Rekso Pustoko. Wisatawan yang ingin memperoleh berbagai souvenir dan cinderamata bisa mendapatkannya di Pare Anom art shop.

Keraton Kasunanan Surakarta
Keraton Kasunanan Surakarta dibangun oleh Pakoe Boewono II pada tahun 1745, terletak di pusat kota Solo, tepatnya di ujung Jalan Slamet Riyadi. Sebelum di lokasi yang sekarang, dahulu ibukota Keraton berada di Kartasura, yang berjarak lebih kurang 12 km barat Kota Solo.

Memulai perjalanan dari Jalan Slamet Riyadi ke arah keraton, kita akan disambut gerbang yang rimbun oleh pepohonan. Setelah itu sebuah alun-alun besar menanti untuk kita seberangi. Dari alun-alun ini, kita bisa melihat gaya khas sebuah tata kota lama. Ada Kraton Kasunanan Surakarta yang terletak dalam satu kompleks dengan alun-alun dan Masjid Agung.

Di seberang alun-alun, kita akan disambut sebuah gerbang pendapa yang terbuka besar dan berdiri cukup megah. Dari sini kita bisa terus berjalanan ke dalam, karena bangunan utama keraton berada di belakangnya. Di dalam bangunan utama ini terdapat sebuah museum yang dulunya merupakan kompleks perkantoran pada jaman Paku Buwono X.

Museum yang terbagi atas sembilan ruang pameran ini menyimpan bermacam-macam benda bersejarah, yang memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi. Beberapa koleksi yang ada antara lain kereta kencana, bermacam-macam senjata, wayang kulit dan benda-benda peninggalan jaman dulu lainnya.

Ingin lebih seru menjelajahi keraton, kita bisa meminta tukang becak yang berada di sekitar keraton untuk paket keliling keraton. Sambil duduk santai, kita bisa melihat-lihat keraton dan lingkungan pendukungnya. Di Alun-Alun Selatan kita bisa melihat ada dua gerbong kereta yang tampak sudah sangat berumur. Di sini kita juga bisa mengamati kerbau putih yang dikenal dengan nama kebo bule Kyai Slamet. Kerbau-kerbau tersebut dianggap keramat dan selalu ditunggu saat kirab sekatenan ataupun kirab malam 1 Sura.

Pasar Klewer
Nama Pasar Klewer sudah begitu lekat dengan citra sebagai tempat belanja batik dengan harga terjangkau. Sebagai pasar batik terbesar di Solo, bahkan di Indonesia, Pasar Klewer tentu merupakan salah satu tujuan utama jika kita berkunjung ke kota ini. Terutama bagi kita yang suka wisata belanja. Di sini kita bisa mendapatkan batik cap kain katun dengan harga belasan ribu, dan bisa juga berburu batik tulis sutra yang harganya hingga jutaan rupiah.

Letak Pasar Klewer berada di dekat kompleks Keraton Surakarta. Menurut cerita, lokasi yang kini jadi Pasar Klewer dahulu merupakan tempat pemberhentian kereta. Keramian di tempat pemberhentian itu kemudian dimanfaatkan sebagai tempat untuk menjual berbagai produk. Seiring berjalannya waktu tempat tersebut kemudian menjadi pusat busana batik dengan nama Pasar Klewer.

Bangunan Pasar Klewer mulai dibuat permanen pada tahun 1970an. Dengan bangunan yang besar dan memiliki dua lantai, tidak heran jika ribuan kios ada di pasar ini. Kini setiap hari Pasar Klewer tidak pernah sepi pengunjung yang ingin mencari batik, baik eceran maupun grosir.

Memasuki Pasar Klewer mata kita akan berlari-lari dari sudut satu ke sudut lainnya, mencari motif ataupun corak batik yang diinginkan. Di pasar ini ada kain batik, kebaya, baju resmi, daster hingga kaos batik, baik untuk dewasa maupun untuk anak-anak, laki-laki dan perempuan.

Motif batik yang ditawarkan tidak hanya batik Solo, di sini juga banyak tersedia batik Pekalongan, Yogyakarta, Madura, Banyumas, dan lainnya. Meski sudah terkenal murah, kita tetap bisa menawar harga batik hingga mendapatkan harga harga terbaik. Jadi, selamat berburu batik di pasar yang buka dari pagi hingga sore hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: