Resolusi Bukan Pasal-Pasal Kaku

BonitaTahun 2012 memang sudah berlalu dan kini kita sudah berada di bulan pertama tahun 2013. Tapi selalu ada yang menarik setiap menjelang pergantian tahun. Kita ramai-ramai bikin resolusi, dan mungkin saja kita kerap terperangah, dan mungkin tersipu-sipu malu sendiri: begitu banyak catatan resolusi tahun yang bakal kita lewati tetap menjadi catatan belaka. Begitu sering resolusi kita tak kesampaian.

Lantas, haruskah kita tidak perlu lagi menuliskan atau membuat resolusi untuk setahun ke depan? Tentu saja tidak begitu. Itu bukan pilihan yang bijak dan cerdas.

Ya, setiap awal tahun, sebagian kita terbiasa membuat resolusi yang berisikan hal-hal yang ingin kita capai pada waktu tertentu, biasanya untuk setahun ke depan. Ada bermacam-macam resolusi, mulai dari karier, keluarga, pertemanan, pendidikan sampai dengan soal percintaan. Banyak orang meyakini, resolusi bermanfaat untuk memperbaharui semangat menjalankan segala aktivitas sehari-hari.

Dan memang, resolusi ini sangat penting, sebab kita bisa melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang belum tercapai di tahun-tahun sebelumnya.  Meskipun bukan catatan kaku dan tak ada sanksi yang menyertainya, catatan resolusi bisa menjadi semacam panduan dan ‘’doa’’ bagi seseorang untuk mewujudkan keinginan secara lebih bersemangat.

Jadi memang manfaat resolusi adalah dayanya yang besar untuk meningkatkan semangat dan optimisme hidup kita. Semangat dan antusiasme itu penting bagi kita dalam menjalani kehidupan. Para pakar motivasi mengatakan bahwa orang yang selalu bersemangat dalam hidupnya dan selalu menjalani passion-nya, cenderung lebih berbahagia. Sebab, semangat dan passion itu energi positif dalam segala hal.

Tapi bagaimana bila setiap menjelang akhir tahun kita selalu hanya menjumpai resolusi-resolusi yang gagal? Bukankah itu memicu rasa frustrasi kita? Sekali lagi, tujuan resolusi perlu kita camkan: evaluasi. Jadi, kita mengevaluasi lagi kenapa hanya kegagalan demi kegagalan yang kita jumpai, dan kenapa resolusi kita hanya menjadi catatan yang tak berdaya?

Efektif dan Rasional
Nah, untuk meminimalisasi kegagalan atau tidak kesampaiannya resolusi kita, seyogianya kita memikirkan hal-hal yang rasional, mungkin sederhana, yang bisa diwujudkan secara efektif. Benar, orang bilang, gantungkan harapan setinggi langit, gantungkan keinginan setinggi-tingginya, tapi bila itu “mengganggu” kita dan membebani kita, lebih baik cukup menggantungkannya di tali jemuran yang mudah kira raih, bukan? Maksudnya, meski tak ada larangan untuk muluk-muluk berkeinginan, kita tetap dituntut mesti rasional.

Nah, berikut tips membuat resolusi yang membuat kita sangat yakin untuk mewujudkannya.
1. Catat secara tertulis sebagai reminder.
Karena kita makhluk yang sering lupa, mencatat apa yang kita resolusikan itu hal yang bagus. Kita bisa memasangnya di tempat-tempat yang sering kita lihat, di meja kerja atau di dinding dekat meja kerja kita. Bolehlah sebagai back-up, kita menyimpannya di ponsel atau smartphone kita. Yang perlu dihindari, jangan memasang di dekat tempat tidur, sebab ada kemungkinan catatan-catatan itu hanya akan membuat tidur kita agak terganggu.

2. Jangan terlalu banyak membuat catatan keinginan.
Banyak catatan resolusi bisa membebani kita. Alih-alih terwujud semua, bisa-bisa tak satu pun yang kesampaian. Kenapa? Sebab, ada kemungkinan kita tidak fokus. Dengan tak banyaknya catatan resolusi, fokus kita lebih terarah dan kemungkinan keberhasilannya menjadi besar.

3. Catatan resolusi spesifik.
Spesifik maksudnya jelas dan terarah. Bila misalnya kita ingin bisa menari, catatannya sebaiknya bukan ‘’bisa menari’’. Tapi catatan yang spesifik itu juga perlu disertai hal-hal yang lebih detail misalnya ‘’ikut tari di sanggar X dan dalam setahun sudah mahir gerakan-gerakan tarian dasar.’’

4. Mencatat keberhasilan atau kemajuan
Untuk memantau sekaligus mempertahankan semangat, kita perlu mencatat kemajuan-kemajuan apa yang telah kita capai untuk suatu catatan resolusi kita. Jadi, bila kita ‘’latihan menari’’, kita bisa mencatat  perkembangan kemampuan kita. Soal berapa lama pantauannya, kita bisa menentukan juga dalam catatan, dan pantauan itu harus dilakukan berkala.

5. Tidak mudah menyerah.
Bila dalam prosesnya kita merasa perkembangan pencapaian resolusi kita tidak menggembirakan, jangan patah semangat. Kita bisa mengevaluasi kenapa kita belum berhasil. Ini bisa dikaitkan dengan proses evaluasi berkala sebelum evaluasi final di akhir tahun. Perlu kita ingat, resolusi dibuat bukan untuk membebani diri kita melainkan untuk memandu langkah kita. Kalau pun ada yang tidak berhasil dalam prosesnya, kita tetap bisa melanjutkan hingga akhir masa resolusi itu.

6. Carilah reminder hidup
Maksudnya, kita membutuhkan orang lain untuk ikut mengingatkan resolusi yang telah kita buat. Orang itu bisa teman, pacar, istri atau suami, anak, saudara, orang tua. Intinya orang yang dekat dengan kita dan tahu soal resolusi kita. Keterlibatan orang lain sangat penting karena bagaimana pun kita butuh penguat atau penyemangat.

7. Jangan takut memperbarui motivasi
Bila dalam proses, ada catatan resolusi yang kita anggap tak akan terwujud, kita bisa melakukan ‘’revisi’’. Revisi ini sah-sah saja dan sebaiknya masih berkaitan dengan resolusi sebelumnya. Tujuan dari hal ini adalah agar kita selalu berani memperbarui motivasi kita. Yang terpenting, passion dan semangat kita untuk mencapai resolusi itu tetap terjaga.

Penting kita catat, bahwa resolusi yang kita buat adalah ikhtiar kita untuk selalu berubah, tentu saja perubahan untuk lebih baik. Resolusi bukan pasal-pasal kaku yang membebani kita, tapi juga bukan pasal-pasal yang bisa saja setiap kali kita abaikan. Bolehlah kita yakini bahwa resolusi yang kita buat itu bak tali yang terentang yang akan kita ikuti rentangannya, dan bukan tali yang membelenggu tubuh kita. Yang jelas, dengan tali itu kita dipandu ke depan. Tapi ingatlah, sekali kita mengabaikan rentangan tali pemandu itu, kita bisa melangkah ke arah yang tidak kita harapan. Alih-alih kita berubah menjadi lebih baik, kita kemungkinan malah menjadi lebih buruk dari yang sudah-sudah. Bisa-bisa kita malah terjebak di ‘’lubang yang sama” dua kali atau lebih. Padahal ada peribahasa yang mengatakan, ‘’hanya keledai yang terjebak dua kali di lubang sama’’. Dan kita menolak jadi keledai, kan?

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer/
Host “Pilih Pola Sehat” TVB Kompas  setiap Selasa 11.00 – 12.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: