Kacamata Hidup

Siang tadi masuk SMS dari seorang bapak yang saya kenal di acara IIBF, Indonesia Islamic Business Forum. Di forum itu saya diundang sebagai pembicara, memberikan motivasi wirausaha. SMS dia mengundang saya mampir ke tempat usahanya. Kebetulan saya pas di tengah kota. Dan saya pernah di-ancer-anceri tempatnya. “Depan SMK 17…”

Saya sampai di lokasi. Saya tak menduga tempatnya sebuah kios di pinggir jalan. Melihat saya datang, wajahnya langsung sumringah. Kaget – di luar dugaannya. Wong baru di-SMS, kok tahu-tahu muncul. Ada dua etalase berjejer berisi kacamata. Persis di sebelahnya, isterinya membuka kios rokok dan jualan pulsa. Bapak ini penyandang difabel. Kedua kakinya lumpuh semenjak usia tiga tahun. Meski begitu, semangatnya menyala besar. Sejak awal saya sudah kagum.

Saya duduk di atas lincak yang diberi alas karpet tipis bewarna merah. Kendaraan bermotor dan mobil bersliweran di jalan. Debu dan asap knalpot kadang masuk melalui sela-sela layar yang digantung di depan. Bau got sesekali menyengat, menguap dari bawah lantai papan. Saat saya tiba, dia sedang berbincang dengan seseorang. Tamu bapak ini juga dari IIBF. Mereka tengah berbincang rencana si bapak mencari rumah sekaligus tempat usaha yang memadai. Sekarang ini si bapak dan isteri serta anak-anak mereka tinggal di rumah orangtua mereka yang penuh sesak anggota keluarga yang lain.

Kami bertiga ngobrol. Satu dua orang datang ke kios, kebanyakan mau beli pulsa. Isterinya yang melayani, sambil nyambi menidurkan anaknya di dasaran kios. Menurut si bapak, dia punya paguyuban penyandang difabel dengan nama Paguyuban Bunga Bangsa. Anggotanya sekitar 30 orang. Mereka semua bekerja. Ada yang ikut orang, ada yang usaha sendiri. Ada yang jualan koran, ada yang buka bengkel, ada yang usaha konveksi. Semua hidup mandiri.

Si bapak sangat bersemangat menceritakan bagaimana ia merintis usaha kacamatanya. Sekarang ada beberapa instansi yang menjadi pelanggannya, tapi dia butuh lebih banyak pelanggan. Wajahnya terlihat pilu saat bercerita bagaimana susahnya menghadapi pandangan masyarakat umum yang menganggap kaum difabel sedemikian rendah, seolah mereka peminta-minta yang harus dikasihani.

“Bahkan kadang kami merasa dipandang lebih rendah dari mantan napi…,” ujarnya sendu. Matanya menerawang jauh. Isteri si bapak membawakan dua gelas berisi kopi 3 in 1 yang masih mengepul. Gelas yang satu bewarna putih, yang satu lagi coklat. Yang satu agak tinggi. Yang satu agak pendek. Kedua gelas diletakkan di atas etalase, tanpa lepek.

Si bapak bercerita betapa orangtuanya telah mendidiknya dengan sangat baik. Ia tidak dimasukkan ke sekolah penyandang cacat, malah dimasukkan ke SMK. “Supaya teman-temanmu tidak itu-itu saja…,” kata ibunya.

Untuk membantu bayar uang sekolah, dia nyambi jadi penyemir sepatu di sebuah rumah makan ayam goreng. Suatu malam ia bertemu seseorang. Ternyata pengusaha dari Kudus. Mungkin kagum, mungkin terharu melihat kondisi si bapak saat itu, yang meski difabel, tetap rajin mencari nafkah halal. Pengusaha tadi memberi beasiswa kepadanya.

Saat kelulusan akhir tahun, sekolahnya merencanakan piknik ke Bali. Si bapak dibantu pengusaha tadi melunasi iuran piknik yang tidak murah. H-1 si Bapak dipanggil ke sebuah kelas yang kosong oleh seorang guru. Uang pikniknya dikembalikan. Dia disarankan tidak ikut, karena bakal merepotkan. Bis bakal naik ke atas kapal dan semua murid harus turun dari bis dan naik ke geladak. Si bapak kecewa sekali. Harapannya berpinik bersama kawan-kawannya pupus. Padahal sudah seminggu ini dia tidak bisa tidur, membayangkan keasyikan berlibur ke pulau dewata.

Di saat mangga itu menjelang ranum, di saat mawar itu menjelang mekar, seseorang datang membawa gunting taman, kressss…. Dipotong begitu saja – tanpa ampun. Kawan-kawan si bapak protes tapi tak berdaya. Ada sistim yang memenjara. Ada ketabuan yang tidak masuk akal. Mungkin membawa anak cacat dianggap membawa sial? Seorang temannya berkata,
“Kamu berani ke bali sendiri…?” Yang ditanya menengadahkan muka, matanya berkilat-kilat, airmatanya mendadak pupus. Ia mengangguk berkali-kali. Biji buah mangga tunas kembali, kelopak mawar malu-malu merekah kembali.

Dia diberi alamat hotel oleh kawannya. Dan dengan berbekal uang dan tekad, dia naik bis ke Bali. Sendirian. Sampailah ia di Ubud. Dengan diantar tukang ojek, sampailah ia di depan hotel tempat kawan-kawannya menginap. Ia menunggu di luar sampai sebuah bis mulai keluar. Saat bis kedua keluar, ia sengaja berjalan dengan kruk di kiri kanan – berjalan perlahan lahan, seolah tidak melihat. Bus melewatinya. Kawan-kawannya dalam bis melihat – geger semua. Berteriak girang tak percaya. Bus berhenti. Dia diangkat beramai-ramai masuk ke dalam bus. Semua anak bertepuk tangan dia terkekeh-kekeh. Tour guide menangis sesunggukan. Tanpa tekad, meski sudah bayar iuran, dia tak kan sampai kemana-mana.

Saya memandang wajahnya yang nampak bersih. Pergumulan hidup yang dijalaninya dengan keyakinan dan kepasrahan tak kuasa menggoreskan keriput lara di wajahnya. Ada banyak bunga-bunga bangsa yang tumbuh liar di pinggir jalan. Mereka keras, mereka galak terhadap diri sendiri. Mereka tahu dan menyadari, kekurangan fisik bukanlah penghalang. Mereka tidak mau beristirahat sebelum lelah. Mereka tidak mau dikasihani sama sekali.

Saya menyeruput kopi yang tersaji. Saya habiskan. Saya rasanya perlu kacamata yang lebih baik, agar bisa membaca kehidupan lebih jelas. Di pinggir jalan, di atas selokan, saya belajar mengeja makna.

Harjanto Halim
Presiden Direktur PT Marimas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: