Anak-anak Tak Sopan Lagi?

Sopan santun itu bagaikan udara di dalam ban. Harganya murah, namun bisa membuat perjalanan menjadi lebih nyaman.” (Miguel Cruzatta)

Anda sedang mengoborol dengan seorang tetangga di teras rumah sang tetangga. Obrolan biasa antara dua perempuan bertetangga. Di tengah-tengah obrolan, anak tetangga Anda yang kelas IV SD mendadak keluar dari rumah dan meminta sesuatu pada ibunya. Lalu tanpa mengacuhkan Anda, si anak ngeloyor masuk ke rumah lagi.

Itu kejadian kecil. Meski begitu, Anda merasa tidak nyaman dengan perilaku si anak tetangga. Anda menganggap si anak tak tahu sopan santun karena menyela perbincangan orang tua dan sama sekali tak mengacuhkan kehadiran Anda. Tapi lalu Anda juga ingat bahwa anak Anda juga sering berperilaku sama seperti si anak tetangga. Anda bertanya-tanya: ada apa gerangan dengan perihal sopan santun anak-anak kita sekarang?

Seorang guru di sebuah taman kanak-kanak (TK) juga mengeluhkan ketidaksopanan anak-anak kita sekarang ini. ‘’Saya sering menjumpai anak-anak yang pergi ke toilet tanpa meminta izin guru. Mereka juga keluar masuk ruang kelas tanpa minta izin atau bersalam. Padahal, kami para pengajar di sini, sudah tak kurang-kurang mengajarkan adab sopan santun. Ya, hal-hal seperti itulah yang sekarang benar-benar menjadi perhatian kami.’’

Tentu saja, mengajarkan sopan santun bukan semata tugas guru-guru di sekolah. Bahkan, para ahli pedagogis anak mengatakan bahwa orang tua si anak menjadi faktor penentu keberhasilan si anak dalam berperilaku sopan.

Tapi hal itu memang bukan sesuatu yang mudah. Mengajarkan sopan santun kepada mereka tak bisa berhenti dalam hal-hal verbal saja. Kita tak cukup mengatakan kepada mereka bentuk-bentuk perilaku yang sopan. Sebab, sebenarnya anak-anak kita secara tidak langsung mencontoh perilaku kita sendiri. Sebut saja contoh sederhana, kita meminta pembantu kita melakukan sesuatu dengan nada perintah. Mungkin juga kita sering membentak mereka, juga kepada anak-anak kita sendiri. Hal-hal seperti itu diam-diam dicatat anak-anak dan efeknya mereka meniru perilaku kita.

Atau, katakanlah kita sudah berusaha memberi teladan perilaku yang baik dan sopan. Misalnya, kepada para pembantu kita meminta mereka melakukan sesuatu dengan kalimat-kalimat yang tak berkesan “asal perintah’’. Setiap meminta tolong kepada siapa pun, kita selalu mengawalinya dengan kata ‘’toloang’’. Kita juga selalu mengucapkan kata ‘’maaf’’ bila hendak menyela atau melakukan kekeliruan, sekecil apa pun. Kita juga tidak lupa selalu mengucapkan ‘’terima kasih’’ pada siapa pun yang telah melakukan sesuatu pada kita.

Tidak Mudah
Tapi betapa pun anak-anak bakal meneladani kesopanan perilaku kita, belum tentu anak-anak kita berperilaku sesopan yang kita harapkan. Mereka bisa saja belajar ‘’ketidaksopanan” dari banyak faktor lain. Pergaulan mereka dengan teman-temannya, atau bahkan juga mencontohnya dari tayangan televisi.
Ya, ada banyak cara mengajarkan etika (yang di dalamnya berisi pula dengan adab sopan santun) sejak dini. Salah satunya lewat tayangan televisi. Sayang sekali, banyak sekali tayangan televisi yang disukai anak-anak misalnya film kartun yang mengajarkan ketidaksenonohan ataupun ketidaksopanan. Dalam tayangan itu, mereka sering menjumpai tokoh-tokoh yang begitu gampang mengucapkan kata-kata umpatan seperti “bodoh”, goblok”, “sialan”, dan banyak lagi lainnya.

Intinya, kita berada pada ‘’zaman’’ yang tak mudah untuk mengajarkan etika berperilaku yang baik pada anak-anak kita. Tentu saja, harus ada cara pandang yang berbeda mengenai etika sopan santun. Perilaku apa saja yang dianggap sopan dan yang tidak sopan juga barangkali harus dipertimbangkan lagi. Mereka bukan lagi anak-anak yang sama dengan kita pada saat kita seusia mereka.

Meski begitu, kita tetap harus optimistis dalam mengajari mereka kesopansantunan. Masih banyak yang bisa kita ajarkan pada mereka. Dan yang harus kita camkan adalah bahwa perilaku anak berasal dari pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu yang lama.

Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita berperilaku sopan santun. Semuanya bisa dimulai dengan sopan santun dalam berbicara. Lalu bagaimana agar anak memiliki sopan santun dalam berbicara kenalkan ia dengan empat (4) kata kunci sederhana, yaitu ‘’terima kasih”, “tolong”, “maaf”, dan “permisi”. Itu empat kata sederhana, tapi tak sederhana mempraktikkannya, tetapi tetap harus kita cobakan terus-menerus pada anak kita.

1. Terima Kasih
Kata itu bisa kita biasakan pada anak kita ia diberi pertolongan atau diberi sesuatu (misalnya hadiah) dari orang lain. Secara tak langsung, pembiasaan mengucapkan kata tersebut menjadikan anak terbiasa menghargai orang lain.

Sekali lagi, kata yang sederhana itu tak mudah diucapkan anak-anak. Lalu bagaimana?  Bila anak masih sungkan untuk mengucapkan terima kasih, jangan segan untuk mengucapkan terima kasih atas nama anak. Jika ucapan yang didengar berkali-kali,anak pun belajar etika berterima kasih.  Jika anak tetap tidak mau mengucapkan terima kasih ingatkan anak denga kata-kata yang halus akan tetapi yang harus diingat adalah hindari sikap mempermalukan anak di depan umum tetapi ingatkan pada saat anda dan anak anda tinggal berdua.

2. Tolong
Biasakan anak mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan orang lain, meski untuk hal-hal kecil. Misalnya saat minta diambilkan air, dibukakan pintu, diambilkan mainan, dan lain-lain. Jangan memaksa dalam mengajarkannya. Jika anak tidak mau mengatakan “tolong” hindari menolak keinginan anak.

3. Maaf
Mengajarkan kata “maaf” dapat dimulai dari diri orang tua. Misalnya saat orang tua tidak sengaja menginjak mainan anak mintalah maaf kepadanya. Jangan segan-segan mengucapkan kata “maaf” dengan demikian anak akan tahu bahwa dia harus mengucapkannya kala berbuat salah/Khilaf.

4. Permisi
Orang lain memiliki privasi yang perlu dihargai jadi jelaskan dan ajarkan pada anak bahwa ia harus mengetuk pintu dan mengucapkan permisi jika hendak masuk kamar orang lain. Berikan contoh dari tindakan sehari-hari.

Ya, santun berbicara bisa jadi langkah awal agar anak bisa berperilaku sopan juga dalam tindakan. Beberapa hal lain yang bisa kita lakukan selain mengajarkan kesopansantunan ketika berbicara adalah:

– Jadikan diri kita sebagai contoh. Pada masa sekarang ini, anak-anak sedang mengalami masa imitasi, biasanya mereka meniru setiap perilaku orangtua.
– Bila anak telah bersikap sopan, tidak ada salahnya memberi pujian.
– Bila Anda berharap terlalu banyak dari anak, bisa-bisa yang terjadi adalah “perang” dengan anak. Lakukan secara bertahap, sesuai perkembangan anak.
– Salah adalah hal yang biasa. Begitu pula jika anak melakukan kekeliruan yang menurut Anda tidak sopan. Beritahu anak kesalahannya dan katakan apa yang Anda harapkan. Jangan langsung memarahi atau mempermalukannya di depan orang lain.

Benar, hal-hal di atas berkesan sangat sederhana, tapi tak sesederhana mengaplikasikannya. Meski begitu, kita tetap harus mencobanya, bukan?

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer/
Host “Pilih Pola Sehat” TVB Kompas  setiap Selasa 11.00 – 12.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: