Silaturahmi Tak Sekadar Saling Berkunjung

“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” – (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

Lebaran tinggal menghitung hari. Di antara beberapa tradisi setiap Hari Raya Idul Fitri, ada satu hal yang terpenting dan sangat dianjurkan, yakni bersilaturahmi. Silaturahmi itu punya arti tali persaudaraan, dan bersilaturahmi itu berarti mengikat tali persaudaraan. Caranya bisa beragam, tapi intinya saling berhubungan.

Tentu saja, menjalin ikatan persaudaraan atau silaturahmi tak harus dengan bertemu secara langsung. Tak harus ada pertemuan fisik, apalagi sekarang ada sarana berkomunikasi yang banyak sekali ragamnya. Tapi, bertemu langsung secara fisik tetap paling afdal. Salah satunya dengan saling mengunjungi rumah masing-masing, atau saling bertamu.

Benar, bertamu dan menerima tamu adalah kegiatan sehari- hari yang sangat familiar dalam kalangan masyarakat kita.  Kita sebagai makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lainnya, dan bertamu menjadi medium interaksi sosial di antara kita. Nah, tujuan bersilaturahmi  itu untuk kebajikan, maka dibutuhkan etika agar membawa berkah baik bagi tamu maupun sang tuan rumah, meskipun itu keluarga kita sendiri.

Seringkali kita melupakan soal etiket tersebut.  Padahal hal itu sangat penting diperhatikan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan saat bersilaturahmi. Tak hanya etiket bagi tamu yang ingin bersilaturahmi, tuan rumah pun mempunyai etiket menerima tamu. Misalnya, memperlakukan tamu dengan baik, menghidangkan makanan yang memuaskan tanpa harus bermewah-mewah, dan membuat tamu merasa nyaman berada di rumah kita. Jadi memang, bersilaturahmi itu tak sekadar saling berhubungan atau saling berkunjung.

Etiket untuk Tamu

  • Memilih waktu berkunjung yang tepat, bukan pada saat orang beristirahat, misalnya sore hari atau setelah maghrib. Berbeda kondisinya jika kita sudah mengadakan janji dengan sang tuan rumah terlebih dulu.
  • Mengetuk pintu secara wajar, jangan menggedor pintu. Kalau di rumah yang kita kunjungi ada bel, kita juga harus membunyikannya secara wajar pula. Memanfaatkan telepon seluler juga bisa dilakukan untuk memberitahu tuan rumah bahwa kita sedang dalam perjalanan ke rumahnya atau bahkan sudah di gerbang rumahnya.
  • Ucapkan salam dengan sopan dan tidak berteriak.
  • Ucapkan salam maksimum tiga kali, jika tidak ada jawaban, sebaiknya kembali lagi lain kali.
  • Tanyakan pada tuan rumah apakah dia dan keluarga punya acara atau kegiatan lain.
  • Jika bertamu karena diundang, sebaiknya tidak terlambat. Kalau mengalami keterlambatan, sebaiknya memberitahukan kepada tuan rumah yang mengundang sebelum atau saat waktu yang ditentukan.
  • Menghargai yang punya rumah dengan menggunakan pakaian yang pantas serta tahu bagaimana cara membawa diri dengan baik.
  • Usahakan membawa oleh-oleh secukupnya saja, terutama jika jarak rumah yang kita kunjungi di lain kota, tapi ini bukan suatu keharusan. Oleh-oleh yang kita bawa bisa menyenangkan tuan rumah atau membawa suasana bahagia.
  • Berikan senyuman saat mulai masuk ke rumah yang kita datangi.
  • Sebaiknya tidak makan terlalu banyak terhadap apa yang disajikan. Khusus saat Lebaran, makan terlalu banyak di tempat yang kita datangi akan membuat kita tidak nyaman, juga biasanya masih ada tempat lain yang akan kita datangi.
  • Jangan terlalu lama bertamu. Ini berkaitan bahwa kemungkinan tuan rumah punya acara lain. Jika harus menginap, tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali jika tuan rumah yang meminta.
  • Saat pamit pulang, jangan lupa mengucapkan terima kasih pada tuan rumah, karena sudah diterima dengan baik. Jika berkunjung ke acara open house, tidak ada salahnya untuk mengucapkan terima kasih keesokan harinya melalui kartu atau pesan singkat.
  • Pulang dengan hati lapang dan memaafkan kekurangan yang terjadi. Itu bila ada pelayanan dari tuan rumah yang kurang cocok dengan diri kita.

Etiket untuk Tuan Rumah

  • Menampakkan kegembiraan akan kehadiran tamu.
  • Selalu bersikap dan berbicara ramah selama dikunjungi. Maksudnya, sebagai tuan rumah kita harus pintar-pintar membuat tamu betah berkunjung.
  • Tidak memaksakan diri mengundang tamu kalau kita merasa tak akan mampu menjamu dengan layak.
  • Jangan membebani tamu untuk membantu. Ini untuk acara yang kita buat dan mengundang orang lain.
  • Hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu, terutama saat Lebaran. Itu sebagai salah satu wujud penghormatan kepada tamu.
  • Jangan tergesa-gesa untuk mengangkat makanan hidangan sebelum tamu selesai menikmati jamuan.
  • Mengantar tamu hingga di luar pintu rumah. Ini menunjukkan penerimaan tamu yang baik dan penuh perhatian.

Kenapa etiket itu begitu penting? Sebab, ketidaknyamanan saat saling berkunjung atau bersilaturahmi bisa saja membuat hubungan menjadi terganggu. Tentu saja, yang perlu dicamkan baik untuk tamu maupun untuk tuan rumah, inti dari semua etiket itu adalah saling menghargai. Bila tujuan bersilaturahmi itu mengharmoniskan hubungan dengan orang lain, pasti ironis bila malah rusak hanya karena kita tak beretiket ketika berkunjung maupun dikunjungi.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer/
Host “Pilih Pola Sehat” TVB Kompas  setiap Selasa 11.00 – 12.00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: