Hang Out Positif di Kafe

I don’t want to be in my car all day. I love getting up in the morning in Venice and walking my dogs down to the cafe to get my tea, and then perhaps going to a bookstore and sitting and reading, then walking to the beach.” – Jessica Chastain

Rehat sejenak dari rutinitas itu sangat penting, terutama untuk mengendurkan ketegangan syaraf akibat tekanan pekerjaan atau beban lain. Itu sebabnya orang-orang Jepang yang terkenal disiplin ketika bekerja, ketika pulang dari tempat kerja, umumnya mampir sebentar ke kafe, coffe shop, bar atau apa pun sebutannya. Mereka memang butuh istirahat sejenak dari tekanan pekerjaan. Itulah pentingnya sebuah kafe, juga di Indonesia.

Ngafe merupakan salah sebuah proses perkembangan kebutuhan orang kota besar di Jakarta yang semakin lama dirasakan semakin mirip dengan kota besar di mana saja. Gaya hidup global membuat banyak orang akhirnya juga merasakan perlunya sebuah menjalani kebiasaan baru, yaitu pergi ke kafe, yang sebelumnya lebih dulu dikenal oleh penduduk di negara-negara yang lebih dulu maju dan berkembang.

Benar budaya ngafe di negeri kita terbilang muncul agak belakangan kalau dibandingkan negara-negara lain, yakni sekitar tahun 1970-an. Itu pun di Jakarta, tepatnya di Hotel Indonesia yang membuka sebuah coffe shop. Saat itu, umumnya orang lebih mengenal restoran di mana mereka datang untuk makan besar. Duduk berlama-lama hanya dengan menikmati secangkir kopi (dengan berbagai variannya) ditemani penganan kecil saat itu belum menjadi tradisi seperti di banyak negara Eropa seperti Prancis atau Italia. Di Prancis misalnya, banyak seniman besar lahir dari tempat-tempat yang disebut kafe. Kita ingat JK Rowling, penulis Harry Potter yang terkenal itu mulai menulis karyanya dengan datang ke kafe selama berjam-jam.

Kebiasaan memanfaatkan tempat-tempat bersantai sejenak sambil menikmati minuman dan penganan ringan akhirnya juga berkembang di Indonesia. Tak pelak lagi, bermunculan banyak kafe dengan beragam tawaran.

Alasan orang datang ke kafe pun mulai beragam. Ada yang seperti disebutkan di atas yaitu rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan. Malah kebiasaan mampir kafe sepulang kerja sudah berkembang di Jakarta dengan alasan mendasar menghindari jam-jam kemacetan. Jadi, ketimbang berlama-lama di kendaraan atau moda transportasi umum karena terjebak macet, para pekerja itu memilih pergi ke kafe dulu hingga arus lalu lintas mulai lancar.

Ya, selain menghindari macet, biasanya orang ngafe untuk rileksasi dan menentramkan pikiran sehabis bekerja di kantor dari pagi hingga sore.
‘’Saya coba bersantai dengan mencari suasana lain. Pergi ke kafe misalnya, itu cara jitu menghilangkan stres,’’ ujar Venny, sebut saja begitu, seorang perempuan karier yang masih muda dan enerjetik, yang bisa dibilang cafeholic atau sangat suka pergi ke kafe.

Tak hanya untuk bersantai atau relaksasi, orang pergi ke kafe juga untuk tujuan bersosialisasi. Bertemu dengan banyak orang, entah kenalan, rekan bisnis atau famili, sering terjadi pada saat sedang ngafe. Malah tidak jarang dengan orang yang sudah lama tidak berjumpa. Pertemuan dengan rekan atau family di rumah atau tempat formal tentu saja berbeda ketika tempatnya “digeser” di kafe. Suasana pertemuan dan topik yang dibahas bisa lebih beragam tapi tetap dengan suasana santai.

Bahkan, bila urusan ke kafe adalah bertemu kolega bisnis atau untuk bertransaksi pekerjaan, suasananya tetap santai. Ya, membicarakan transaksi bisnis di kantor yang berkesan formal tentu saja berbeda ketika itu dilakukan di kafe. Dalam hal ini, ibarat sekali tepuk dua lalat terpukul: gol transaksi bisnis sekaligus menikmati suasana santai.

Gaya Hidup
Tak pelak lagi ngafe sudah menjadi bagian dari gaya hidup seseorang, dan tak didominasi oleh kalangan eksekutif. Awalnya, orang yang memanfaatkan kafe lebih banyak orang-orang tertentu saja. Sekarang, siapa pun, dari kalangan apa pun, bisa datang ke kafe tanpa rasa minder.
Dan karena sudah menjadi kebutuhan, pergi ke kafe bukan lagi kegiatan aneh. Orang pun tidak lagi merasa risih untuk duduk ngobrol berjam-jam hanya dengan secangkir atau dua cangkir kopi tanpa kuatir akan diusir. Kita lihat ibu-ibu bisa datang ke kafe sambil mengajak anaknya yang kecil dan tanpa risih duduk berlama-lama hanya menikmati secangkir kopi. Begitu juga untuk kalangan remaja, kafe bahkan sering dimanfaatkan sebagai tempat hang out yang asyik.

Perlu diketahui, makna atau pengertian sebuah kafe sekarang ini sebenarnya sudah jauh berkembang dan berbeda dari konsep awalnya. Di Prancis kafe adalah kedai kopi yang menjual kopi, teh dan kue-kue kecil yang khas. Kini sebutan kafe juga dipakai untuk restoran yang menjual makanan besar dan dilengkapi dengan musik hidup.

Tapi perkembang dari konsep awal itu tak lagi banyak dipikirkan orang. Intinya, orang butuh tempat hang out yang asyik, santai, dan positif, dan orang lain sudah menyediakan tempat beserta uba rampenya.

Etiket di Kafe
Berikut ini beberapa etiket yang perlu kita jaga dan lakukan benar-benar di sebuah kafe. Meskipun bersuasana santai, tapi soal etiket tetap harus di jaga, bukan?

  1. Reservasi. Hal ini mungkin tidak perlu dilakukan, tapi bila kedatangan kita ke kafe untuk tujuan berkumpul dengan banyak orang atau membicarakan urusan bisnis yang butuh tempat “agak privat”, maka reservasi menjadi sangat penting, setidak-tidaknya kita bisa memilih akan duduk di bagian kafe yang mana.
  2. Datang tepat waktu. Ini tentu berlaku bagi yang sudah reservasi. Sebab, keterlambatan bakal merugikan pihak lain seperti pengelola kafe atau orang lain yang sebenarnya menginginkan tempat yang sudah kita reservasi.
  3. Menjaga volume suara ketika berbicara atau ngobrol. Meski kafe bersuasana sangat tidak formal, menjaga suara kita tetap penting agar tidak menganggu privasi pengunjung kafe lainnya. Juga untuk menghindari kesan kalau kita itu ndesa.
  4. Tidak lewat jam tutup kafe. Keasyikan mengobrol kadang membuat kita lupa waktu, dan itu memang salah satu tujuan orang ke kafe. Meski begitu, sangat disarankan tidak melewati jam kafe tutup.
  5. Komplain dengan elegan. Kalau ada minuman atau makanan yang tidak enak, atau pelayanan yang kurang memuaskan, dan kita perlu complain, maka lakukan dengan cara elegan. Sangat disarankan kita tidak mengumpat-umpat. Datangilah manajer atau yang bertugas dan sampaikan keluhan kita secara halus tanpa menyinggung perasaan mereka. Ya meskipun kita membayar, tapi mereka juga manusia, bukan?
  6. Ucapkan terima kasih. Ini hal kecil yang sering dilupakan. Mengucapkan terima kasih kepada pelayan atau siapa pun yang bertugas di kafe itu sangat penting untuk menjaga hubungan personal antara pengunjung dengan pengelola kafe.

Beberapa etiket itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Nah, para cafeholic, dalam suasana sesantai apa pun, etiket memang perlu dijaga kalau kita ingin disebut orang yang tahu etiket, bukan?

Bonita.DS
Direktur YPI Training Centre & Consultancy
Professional Trainer/
Host “Pilih Pola Sehat” TVB Kompas  setiap Selasa 11.00 – 12.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: