Semua Perempuan Bisa Mandiri

“Aku tidak memiliki perasaan ketergantungan terhadap ibuku, ayahku, atau siapa pun karena aku memang tidak bergantung kepada siapa pun. Sebaliknya, dia (suamiku) sebelumnya sangat tergantung kepada ibunya, kemudian mengganti kedudukannya itu dengan diriku. Dia telah terbiasa melihat dirinya sebagai orang yang kuat di jalanan dan menyadari bahwa dia adalah pihak yang lemah di dalam rumahnya sendiri.” (dari Novel Memoar Seorang Dokter Perempuan karya Nawaal El Saadawi)

Wacana mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan tentu saja bukan hal yang baru lagi. Buktinya sudah banyak. Bahkan, perempuan sudah bisa menjadi pemimpin di tempat yang tadinya didominasi laki-laki. Apalagi begitu gencar kalangan penganut paham feminisme mengampanyekan soal kesetaraan gender tersebut.

Yang jelas, perempuan tidak lagi dipandang sebagai makhluk lemah yang selalu bergantung pada lelaki. Ekstremnya, mereka bahkan bisa hidup mandiri tanpa bantuan laki-laki. Contohnya antara lain kaum perempuan yang berkarier sesuai bidang yang mereka pilih atau perempuan yang memilih menjadi single parent.

Lebih dari itu, bahkan banyak ulasan mengenai perempuan sebenarnya ‘’lebih kuat’’ dari lelaki. Tulisan ini tak bermaksud membanding-bandingkan perempuan dengan lelaki. Tapi dalam kenyataannya, ada sebagian perempuan yang menunjukkan diri mereka ‘’lebih kuat’’ dari lelaki. Anda barangkali saja mengenal seorang kolega perempuan yang memilih karier tertentu dan sebut saja menjadi seorang direktur di suatu perusahaan atau lembaga. Dia menjadi pemimpin untuk banyak karyawan, yang sebagian di antara mereka adalah laki-laki. Kolega Anda itu sudah berkeluarga (bersuami dan punya anak-anak). Ketika di rumah, dia juga bisa menjadi ‘’direktur’’ untuk urusan domestik rumah tangga. Bagaimana bukan makhluk yang kuat ketika di perusahaan yang dipimpinnya dia bisa menjalankan fungsinya dengan bagus (dan tentu saja banyak sekali urusannya), pada saat di rumah, dia juga masih harus mengerjakan banyak hal, baik mengurusi suami maupun anak-anaknya.

Lalu, apa sebenarnya yang disebut “mandiri” itu? Judith Barwick, seorang psikolog Amerika Serikat, menyebut mandiri adalah ketidakbergantungan. Kebergantungan adalah bersandar pada orang lain atau mengharapkan orang lain untuk memberikan dukungan . Jadi, perempuan mandiri adalah perempuan yang tidak bergantung pada orang lain. Dia adalah perempuan yang selalu dapat mengambil sikap dan keputusan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Dia juga perempuan yang secara ekonomis dapat mencari nafkah sendiri tanpa bergantung kepada laki-laki (pada suami jika ia seorang isteri).

Tak Selalu Indah
Dan di sekitar kita, sudah banyak perempuan yang seperti itu. Tapi tentu saja tak semua cerita tentang perempuan yang mandiri itu selalu indah belaka. Maksudnya, tak semua perempuan memerankan kemandirian dengan mudah. Juga, apakah sebenarnya perempuan menginginkan kemandirian itu? Apakah mereka menginginkan tak bergantung sama sekali pada laki-laki?

Ada buku menarik berjudul Tantangan Wanita Modern dengan subjudul ‘’Ketakutan Wanita akan Kemandirian’’ tulisan Collette Dowling. Buku yang merupakan terjemahan bebas dari The Cinderella Complex ini menceriakan bahwa wanita atau perempuan masa kini masih mengharapkan orang lain atau sesuatu yang berasal dari luar diri mereka untuk mengubah hidup mereka.

Ya, perempuan mungkin saja berkiprah di dunia luas, melakukan berbagai perjalanan atau bekerja mencari uang, tetapi di balik semua itu tersembunyi suatu keinginan untuk diselamatkan, dan ada suatu dambaan yang mendalam akan ketergantungan. Di majalah Publisheus Weekly,  Dowling memaparkan simpulannya berdasarkan penelitian dan kisah kehidupan para wanita mandiri di Amerika. Menurutnya, pada dasarnya wanita takut untuk bertanggungjawab atas kehidupan mereka sendiri.

Ketakutan itu bisa jadi muncul lantaran konsepsi kebebasan dan persamaan peremnpuan dengan lelaki masih menyisakan beberapa persoalan, khususnya di Indonesia, misalnya ancaman pelecehan seksual dari kaum lelaki baik di dunia kerja maupun dalam pergaulan sosial. Selain itu, dari sisi perempuan sendiri, kemandirian sering membuat dirinya ‘’seolah-olah’’ dihinggapi perasaan bersalah terentu. Misalnya, perempuan berkarier yang memiliki anak , ada kemungkinan dihantui perasaan bersalah karena meninggalkan anak kesayangannya di rumah. Seharian di kantor, paling tidak, pada mulanya ada semacam kegamangan. Bahkan, bila dia punya pembantu atau baby sitter, mungkin saja dia tak sepenuh hati memercayakan pengasuhan anaknya kepada mereka.

Itu beberapa persoalan ketika seorang perempuan berkeinginan mandiri. Tapi persoalan itu tak bisa mengubah konsep dan keyakinan sebagian besar kaum perempuan sekarang untuk memperjuangkan hak kesetaraannya dengan laki-laki.  Mereka tidak lantas surut dan memilih tidak mandiri atau bergantung pada laki-laki. Apalagi, sudah banyak bukti bahwa perempuan yang mandiri di luar, mandiri juga di dalam rumahnya. Ibaratnya, seorang perempuan memang bisa melakukan banyak urusan.

Tips Jadi Perempuan Mandiri
Benar tidak mudah bagi seorang perempuan untuk mandiri. Banyak hal sulit harus dia terima dan lakukan. Tapi kemandirian tetap perlu diperjuangkan. Berikut beberapa tips agar perempuan bisa mandiri.

1.    Selesaikan hal sepele
Sedapat mungkin menyelesaikan sendiri hal-hal sepele yang berkenaan dengan urusan pribadi, tanpa bersuaha meminta bantuan orang lain, baik suami atau pembantu. Misalnya membersihkan kamar tidur sendiri. Lebih-lebih itu wilayah privacy.

2.    Be A Tuff Woman
Perempuan umumnya diidentikan dengan kelembutan. Tapi tidak bisa stereotipe itu membuat Anda mengesankan diri Anda lemah dan manja. Perlu juga sesekali Anda menunjukkan bahwa diri anda itu kuat. Anda bisa menunjukkan bahwa anda itu a tuff woman yang tidak gampang menyerah dalam segala hal.

3.    Jangan Bergantung
Kalau bisa sendiri, kenapa meminta bantuan orang lain.  Kalau misalnya Anda bisa berbelanja sendiri, kenapa harus menunggu suami atau pasangan Anda punya waktu untuk mengantarnya? Kecuali, sesekali berbelanja bersama dengan alasan untuk kebersamaan dan meningkatkan kemesraan.

4.    Tekan Ego
Untuk jadi mandiri, menekan egoisme mutlak harus dilakukan. Kalau misalnya Anda selalu ingin menang sendiri atau selalu ingin dituruti kehendak Anda, lambat-laun Anda akan jadi perempuan manja yang selalu bergantung. Setidaknya, Anda butuh orang lain untuk menuruti keinginan Anda.

5.    Jangan Main Perintah
Nah, ini juga penting. Kebiasaan memerintah, meskipun terhadap orang yang sudah kita gaji atau bayar, hanya akan menjadikan diri kita selalu bergantung pada orang lain. Kebiasaan suka memerintah akan membuat Anda malas mengerjakan sesuatu sendiri, apalagi untuk hal-hal kecil yang bisa Anda kerjakan sendiri.

6.    Bertanggung jawab
Kemandirian tak akan tercipta tanpa sikap bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas semua tugas Anda menjadi bukti Anda orang yang tepercaya dan bisa melakukan sesuatu dengan baik. Menyerahkan pekerjaan kita pada orang lain selain tak bertanggung jawab, lambat-laun Anda akan selalu tidak bisa mandiri.

7.    Dengar Pendapat
Mendengar pendapat orang lain juga bagian dari proses kemandirian. Ini tak bisa ditafsirkan sebagai ketergantungan. Sebab, meminta pendapat orang selalin membangun relasi sosial yang bagus, juga bisa jadi rujukan untuk introspeksi diri. Orang yang mandiri adalah orang yang selalu berusaha berintrospeksi diri untuk selalu lebih baik.

Begitulah, meskipun tak selalu mudah menjadi seseorang yang mandiri, Anda, khususnya kaum perempuan, punya kekuatan untuk mewujudkannya. Tentu saja dengan tidak melupakan kodrat Anda sebagai perempuan yang dalam beberapa hal berbeda dengan laki-laki. Sebab, yakinlah kemandirian itu bersifat positif secara psikologis. Perempuan yang mandiri tentu saja bakal lebih percaya diri ketika berinteraksi baik dengan sesama perempuan maupun dengan laki-laki. Kalau ditarik lebih panjang, kemandirian perempuan memberi bukti bahwa pikiran yang tak ingin menganggap setara perempuan dan laki-laki hanyalah pikiran ilusif, kuno, yang harus dibuang jauh-jauh.

Bonita D.S
Direktur Sekolah Pengembangan Pribadi
“YPI Training Centre & Consultancy”,
Professional Trainer
dan Host ”Bonita Show” TV Borobudur-Kompas
Setiap hari Rabu 10.00 – 11.00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: