Janji: Ringan Diucapkan, Berat diwujudkan

“I could never think well of a man’s intellectual or moral character, if he was habitually unfaithful to his appointments.’’ (“Aku tidak pernah menganggap hebat kemampuan inteletual atau karakter moral seseorang jika dia terbiasa mengingkari kesepakatan-kesepakatan yang dia buat sendiri.”) – Nathaniel Emmons

Janji memang mudah diucapkan. Tapi untuk mewujudkannya? Tak segampang pengucapannya. Begitu banyak orang mudah mengobral janji tapi tak pernah menunaikannya. Bahkan untuk sesuatu yang bersifat ringan atau sederhana, sebut saja janji untuk saling bertemu pada jam yang ditentukan. Istilah “jam karet” atau ‘’suka ngaret’’ yang begitu populer menjadi bukti bahwa tidak mudah menempati janji. Tak hanya orang lain, mungkin diri kita pun pernah tidak menepati janji. 

Dalam banyak konsep, baik dari konsepsi Barat maupun Timur, janji dan pemenuhannya benar-benar menjadi perhatian serius dalam tata etika berinteraksi sosial. Konsepsi itu lahir lantaran ada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, seseorang pasti memiliki keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Pada saat itu, ada kemungkinan kita mengucapkan sesuatu yang mengandung suatu janji, entah itu disadari atau tidak. Sayang sekali, sering sekali apa yang keluar dari mulut hanyalah untaian kalimat belaka. Hanya sebuah lips-service.

Padahal, ada satu hal yang membuat seseorang akan dianggap mulia dalam berhubungan sosial dan diakui sebagai orang tepercaya apabila dia selalu menepati janji. Sebaliknya, mereka yang suka mengingkari atau mengkhianati janji bakal mendapat predikat jelek.

Ya, banyak ungkapan yang meneguhkan betapa pentingnya sebuah janji harus dipenuhi. Pada masa Tiongkok kuno, ada perkataan seperti ini: “Sekali sepatah kata terucap, bahkan empat ekor kuda pun tidak bisa membawanya kembali,” atau “sebuah janji bernilai seribu keping emas.”

Janji Itu Utang
Orang Arab bahkan punya ungkapan yang lebih jelas dan “mengharuskan” seseorang menepati janji. Al Wa’du Dainun yang artinya “janji adalah utang”. Sebuah utang selalu menuntut keharusan untuk dibayar atau dilunasi. Kalau dalam hukum perdata, seseorang yang tidak membayar utang atau bahkan mengemplangnya, ia akan berhadapan dengan tuntutan hukum. Utang janji, meski bukan berbentuk benda melainkan ucapan, juga wajib dipenuhi. Bila tidak, seperti sudah disebut, seseorang bakal terkena sanksi moral. Dan sanksi seperti itu sering lebih “merugikan” ketimbang sanksi kebendaan.

Sayang sekali, jangankan menganggap janji itu sebagai utang, justru kadangkala kita melupakannya begitu saja, seolah-olah janji kita itu hanya obralan kata untuk menentramkan hati seseorang. Ambil contoh paling sederhana, kita sering menjanjikan pada anak, teman dekat, atau pasangan hidup kita, dengan ucapan sederhana seperti. “Tenang saja, besok ya…” atau “Oke deh, minggu depan.” Namun, pada saat yang sudah diucapkan, kita bahkan lupa.

Tips Menepati Janji
Sering sekali, sebuah janji kita ucapkan tanpa pertimbangan terlebih dahulu. Ketika kita merasakan sanksi tertentu akibat tak bisa memenuhi janji, mungkin pada saat itulah kita menyesal. Tapi seperti pepatah “sesal kemudian tak berguna”, kita sudah tak bisa mengubah keadaan bahwa diri kita telah ingkar janji. Diri kita telah telanjur dicap jelek sebagai tukang ingkar janji.

Maka, agar kita terhindar dari “penyakit” tak bisa memenuhi janji, berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan sebelum BERJANJI, sebagai berikut:

1. Berpikir baik-baik, mempertimbangkan dengan cermat
Sebelum membuat janji terutama dengan melibatkan orang lain, kita harus memikirkannya terlebih dahulu serta mempertimbangkan dan merenungkannya apakah tepat atau tidak janji yang akan kita buat itu. Misalnya, saat akan mereferensikan seorang teman agar diterima bekerja di suatu perusahaan (sebut saja kantor tempat kita bekerja), kita mesti mempertimbangkan terlebih dahulu apakah sang teman tersebut secara administratif telah memenuhi syarat. Apakah tempat kerja kita bisa menerima dia sesuai dengan posisi yang diinginkan, dan lain sebagainya.

2. Berjanji untuk diri sendiri
Walaupun tidak melibatkan orang lain, justru janji yang ditujukan untuk diri sendiri malah jarang ditepati. Apabila kita berjanji untuk kepentingan diri sendiri, maka kita harus berkomitmen terhadap janji tersebut. Memang benar, bila kita tidak berkomitmen untuk menepatinya, dan memang lalu tidak menepatinya, tidak akan ada orang yang tahu selain diri kita sendiri. Tetapi kadang secara mental kita akan sedikit terbebani. Nurani kita setidak-tidaknya terganggu lantaran kita termasuk orang yang tidak punya komitmen. Jadi tetaplah konsisten terhadap janji yang telah kita buat sendiri tersebut.

3. Memikirkan konsekuensinya
Ketika berjanji, pada sat itu juga kita sudah memikirkan konsekuensi apa yang harus kita tanggung, terutama kalau kita tidak bisa memenuhinya. Salah satu contoh, kita menjanjikan pertemuan dengan seseorang pada pukul 17.00. Kita tahu hal itu musykil kita penuhi karena pada saat itu kita yang baru pulang dari kantordan ada kemungkinan terjebak kemacetan. Maka kalau kita tetap menjanjikan hal seperti itu, kita termasuk orang yang tidak memikirkan konsekuensi dari janji kita. Memikirkan dahulu konsekuensi dari janji yang akan kita buat bakal menghindarkan seseorang dari kemungkinan mengingkarinya. ‘’Never promise that you can’t keep”. Ya, jangan menjanjikan sesuatu yang tak bisa kaupenuhi.

4. Sesuaikan dengan kemampuan.
Membuat janji sesuai dengan kemampuan bukan berarti meragukan kemampuan kita masing-masing. Saat kita membuat janji, temukan motivasi yang kuat dalam janji tersebut, apalagi untuk hal-hal yang sekiranya di luar kemampuan kita. Sebab, apabila kita membuat janji di luar kemampuan, sedangkan kita tidak cukup termotivasi, maka besar kemungkinan kita tidak akan dapat untuk memenuhi janji tersebut.

Di luar itu semua, ada baiknya kita mulai membiasakan diri untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji, sekecil apa pun hal yang dijanjikan itu. Ya, menganggap serius sebuah janji betapa pun hanya sebuah janji kecil atau sederhana. Take each promise seriously and make sure you’ll keep it.

Bagaimanapun juga, setiap manusia pasti pernah berjanji. Janji sering pula dijadikan ukuran untuk menilai karakter seseorang. Siapa yang ingin dicap pendusta? Tak seorang pun. Tentu kita tak ingin dianggap seperti yang ada dalam lirik sebuah lagu dangdut: “Kau yang berjanji, kau yang mengingkari.” Tapi, sekali kita mengingkari sebuah janji, siap-siaplah cap pendusta “tertulis” di kening kita.

Bonita D Sampurno 
Director YPI TRAINING CENTRE & CONSULTANCY,
Professional Trainer, Host “Bonita Show” TV Borobudur-Kompas setiap Rabu 10.00 – 11.00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: