Pemberian yang Tak Selalu Menyenangkan

Donner pour donner/C’est la seule façon de vivre/C’est la seule façon d’aimer. (Memberi untuk memberi, benar-benar memberi/Itu satu-satunya cara untuk hidup/Satu-satunya cara untuk mencintai) – (“Donner pour donner” Elton John)

Siapa yang tidak senang ketika diberi sesuatu oleh orang lain? Benarlah, ketika memberikan sesuatu kepada orang lain, kita berharap orang yang menerima akan merasa senang. Wajar saja, seseorang sering mempertimbangkan benar-benar sesuatu yang hendak dia berikan. Apakah sesuatu yang kita berikan itu cocok, pantas, dan berguna buat si penerima? Apakah pemberian kita itu bersifat spesial buat si penerima? 

Hal itu sering tidak mudah lantaran kita sering tidak mengetahui sesuatu atau barang tertentu yang cocok, pantas, dan berguna bagi orang yang akan kita beri. Memberikan hadiah berupa seprei kepada pasangan yang menikah barangkali saja bersifat cocok, pantas, juga pasti berguna. Tapi apakah pemberian kita itu bersifat spesial? Belum tentu. Bisa saja yang memberikan kado seprei tak hanya kita. Jadi, pemberian kita sama sekali tidak spesial.

Kadangkala yang bersifat spesial juga tidak selalu cocok, pantas, dan berguna. Sering kita mendengar, meski lebih berupa joke atau candaan, tentang seseorang yang ingin menghadiahi pasangan menikah dengan kondom yang unik, katakanlah yang dibeli khusus dari luar negeri. Bisa saja, hadiah “aneh” itu bersifat spesial, tapi belum tentu dianggap cocok, pantas, dan berguna. Salah-salah penafsiran bisa saja hadiah itu dianggap sebagai pelecehan.

Begitu pula, barang atau sesuatu yang kita berikan mungkin bersifat spesial tapi sama sekali tidak berguna. Kita memberikan hadiah kepada keponakan kita yang baru berusia 4 tahun misalnya sebuah smartphone mahal. Itu hadiah spesial, tapi apakah berguna untuk anak balita?

Nah, karena tak mudah mengetahui minat dan selera seseorang, khususnya orang yang akan kita beri hadiah tertentu, sebenarnya tidak menjadi persoalan benar apabila sesuatu atau barang yang kita berikan itu “berharga” atau tidak. Maka, yang lebih penting bukan sesuatu atau barang yang kita berikan melainkan bagaimana cara kita memberikannya.

Cara Memberi
Orang Prancis memiliki peribahasa bagus mengenai hal tersebut. La façon de donner c’est mieux que ce qu’on donne. Ya, cara kita memberikan sesuatu itu lebih bernilai ketimbang apa yang kita berikan. Apa maksudnya?

Pada suatu kesempatan Anda diundang seorang kolega untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Hidangan yang disajikan di atas meja serbamahal. Buat Anda sendiri, beberapa menu di antaranya bersifat sangat spesial sebab Anda belum sekalipun pernah mencicipinya. Kolega yang mengundang Anda dengan mimik muka datar dan cenderung kurang ramah ketika mempersilakan Anda duduk, juga ketika hendak menyantap hidangan. Ketika mengenalkan satu per satu menu yang ada, nada suara kolega Anda juga dingin. Bahkan, Anda menangkap kesan si pengundang sedang memamerkan seleranya yang bercita rasa tinggi, dan agak merendahkan diri Anda.

Ya, dalam ilustrasi itu, Anda mungkin beroleh sesuatu yang spesial, yaitu makan malam dengan hidangan yang terbilang baru dan istimewa buat Anda. Tapi apakah Anda suka? Apakah Anda tetap merasa mendapatkan pemberian istimewa?

Berbeda misalnya ketika Anda bertamu ke rumah seseorang. Sahibul bait alias puan dan tuan rumah menyambut kedatangan Anda dengan sikap sangat sopan dan ramah. Tak lama kemudian, secangkir teh manis dan ubi goreng dihidangkan sebagai sajian. Lagi-lagi tanpa ada kesan dibuat-buat, mereka mempersilakan Anda untuk menikmatinya.

Dalam hal ini, semeja besar hidangan mahal, mewah, dan lezat bernilai lebih rendah ketimbang secangkir teh manis dan sepiring singkong goreng. Sesuatu yang nilai materialnya lebih rendah ketimbang lainnya bisa lebih bernilai ketika diberikan kepada seseorang. Seistimewa apa pun nilai material sesuatu hanya akan menjadi sesuatu yang tak berharga bila diberikan dengan sikap berpura-pura, tidak ramah dan cenderung merendahkan si penerima.

Adakalanya pula, pemberian yang sudah memenuhi kriteria cocok, pantas, berguna, dan sangat spesial pun menjadi kurang berarti bagi penerimanya. Contohnya, pada saat merayakan ulang tahun, Anda mendapatkan hadiah yang benar-benar bagus dan spesial, cocok, dan juga berguna buat diri Anda. Apalagi hadiah itu datang dari orang yang istimewa buat Anda, sebut saja pacar, tunangan, suami atau istri, atau orang tua. Tapi hadiah itu diberikan lewat seorang kurir karena orang yang istimewa itu begitu sibuk dan tak bisa menemani Anda melalui hari yang buat Anda sangat istimewa. Benar, kado itu sangat pantas, cocok, berguna, dan sangat spesial, tapi sebenarnya Anda lebih menginginkan kehadiran pemberinya. Jadi, pasti ada sesuatu yang kurang dalam situasi tersebut.

Lain halnya ketika seseorang yang spesial buat Anda itu hanya memberikan sesuatu yang biasa saja tapi diberikan secara langsung. Lebih-lebih bila Anda tahu, sesuatu yang diberikan itu berasal dari upaya serius si orang istimewa itu yang benar-benar memikirkan tanggal kelahiran Anda.

Cukup Sesungging Senyuman
Jadi, cara kita memberikan sesuatu memang lebih berharga ketimbang apa yang kita berikan kepada seseorang. Sebenarnya, ada sesuatu yang sangat mudah, “murah”, dan bisa dilakukan siapa saja untuk memberikan sesuatu yang bisa membuat si penerima merasa suka dan merasa berharga. Apa? Senyuman. Hanya sesungging senyuman saja merupakan pemberian yang bisa saja tak ternilai bagi penerimanya.

“SENYUM”, sebuah kata dan tindakan kecil tapi bisa berdaya sangat besar. Anda tak perlu membeli atau menyiapkannya betul-betul. Selagi Anda punya bibir, hanya dengan satu tarikan otot yang bahkan tak Anda harus membuang energi. Dan bukankah menurut para ahli agama, senyuman adalah sedekah yang paling ringan?

Ini pun berkaitan dengan cara kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Pemberian kita akan menjadi lebih berharga ketika disertai senyuman. Coba Anda memilih yang mana, diberi cek Rp 10 juta oleh seseorang bermuka dingin atau hanya cek Rp 1 juta dari seseorang yang di bibirnya selalu tersungging senyuman? Sebenarnya sih kalau bisa diberi yang Rp 10 juta plus bonus senyuman, hehehe…. (just a kidding).

Nah, karena memberikan sesuatu kepada orang lain yang bersifat cocok, pantas, berguna dan spesial itu tidak selalu mudah, maka mulailah memberikan sesuatu dengan bonus senyuman. Yakinlah, si penerima akan merasa menerima sesuatu yang berlebih.

Bonita DS
Direktur YPI Training Centre and Consultancy, professional trainer, Host “Bonita Show” KompasTV (bonita.prasetyo@yahoo.com)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: