Puaskah Aku dengan Pekerjaan Ini?

“Bukankah ini adalah pekerjaan yang selama ini kamu inginkan?” ujar Dina (25 th) pada Rika (27 th). “Iya, tetapi setelah menjalaninya selama dua tahun, rasanya ingin pindah kerja saja.” “Kenapa?” “Ingin cari pengalaman baru yang lain lagi,” timpal Rika dengan optimis.

Penyakit umum yang sering kita alami. Itu kesan yang paling cocok untuk percakapan di atas. Rasanya persoalan merasa puas dan tidak puas dalam bekerja adalah persoalan umum, namun dapat menyedot seluruh energi, pikiran dan emosi. Pengalaman membuktikan bahwa amat sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan seperti materi, kognisi, dan afeksi, serta selalu saja ada gap antara keinginan dan harapan. Apakah dengan membiarkan diri kita terbelenggu dengan kebimbangan akan membuat kita membangun masa depan yang lebih baik?

Tentukan tujuan hidup. Contoh, jika tujuanmu: keluarga, gaji mapan, keluarga nyaman. Ya, jadi keinginan untuk bekerja yang cepat dan penuh tantangan ditunda dulu dan nyamankan diri kita dengan keadaan sekarang. Menyamankan diri bukan berarti menerima dengan terpaksa. Jadikan pekerjaan hari ini sebagai rasa syukur karena kita memiliki pekerjaan, memiliki penghasilan tetap, memiliki teman kerja. Faktor X lain yang menyebalkan adalah dinamika hidup dan badai pasti berlalu.

Jadikan pekerjaan hari ini sebagai suatu langkah menuju sebuah aktualisasi diri. Biarkan segala ketidaknyamanan itu menjadi tempaan untuk dapat menemukan apa arti diri kita sebenarnya. Meski kadang terasa lelah menghadapi pekerjaan kita, namun kita ditantang untuk menjadi lebih kuat dan tangguh. Jika dengan situasi yang kompetitif dan kita merasa sangat tersiksa kemudian ingin secepatnya kabur dan mencari pekerjaan yang lebih tenang, maka kita tidak akan menjadi lebih baik. Kita akan selalu mencari yang lebih dan lebih lagi dan kurang bersyukur.

Perasaan tidak puas memang sangat mengganjal tetapi pelajarilah akar dari penyebab ketidakpuasan tersebut. Jika situasi kerja membuat sangat tersiksa, kita harus mencari akar penyebabnya. Contohnya, situasi kerja yang menurut kita sangat kompetitif, kita harus benar-benar detail mencari akar penyebab mengapa kita merasa sangat tidak nyaman dengan situasi tersebut. Apakah disebabkan karena rekan kerja yang sangat menyebalkan dan seringkali menjatuhkan kita? atau dikarenakan kita mudah stres? atau kita merasa kurang percaya diri padahal sebenarnya kita memiliki kualitas untuk bersaing dengan rekan yang lain? atau sebenarnya kita bisa saja menikmati situasi tersebut seperti rekan lainnya hanya saja kita belum terbiasa saja?.

Setelah menemukan akar dari perasaan tidak puas tersebut, tanyakanlah satu hal “Apakah saya masih ingin mencoba?”. Setiap orang selalu memiliki kesempatan kedua dalam hidupnya dan kita tidak akan pernah tahu mengenai masa depan kita dan kita berhak untuk menciptakan masa depan kita sendiri. Kahlil Gibran mengatakan orang bisa merasakan bahagia dan nestapa jauh sebelum orang tersebut benar-benar merasakannya. Puas dan tidak puas adalah pilihan emosi yang kita tentukan, bukan persoalan pekerjaan.

Sebuah pekerjaan tidak akan berubah dan sebuah budaya kerja akan membutuhkan waktu lama untuk dirubah, “take it or leave it”. Terimalah, resapkan, pahamilah dan tentukan apakah kita memang ingin berkarya di bidang pekerjaan tersebut, di posisi tersebut atau kita akan merasa puas apabila memilih jalur yang lain.

Pilihan pindah atau tidak sangat bergantung pada rumusan kita akan hari esok, yang berkaitan akan tujuan hidup kita. Tentu saja, pemikiran tersebut tidak dengan semata-mata karena emosi namun gabungan antara akal, pikiran dan emosi sehingga dapat membuahkan kesimpulan yang matang dan bijaksana.

Pendek kata, ketika sudah datang saat untuk bertindak, tinggalkan sementara memikirkan (how) atau merenungkan (why), tetapi just do it. Bertindaklah, tidak semata pada keputusan pindah kerja yang membutuhkan kebulatan tekad dalam bertindak namun juga keputusan untuk tetap bekerja pada pekerjaan yang sekarang. Apapun keputusan tersebut, bertindaklah untuk menata hati dan pikiran bahwa itulah yang kita putuskan dan kita siap untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tangguh. Persoalan puas, tidak puas, pindah atau tidak pindah, sepenuhnya berdasarkan pertimbangan apa sebenarnya tujuan hidup kita, tujuan jangka panjang dan tujuan jangka menengah. Jika hidup tanpa tujuan seperti mengambang tak tentu arah. Lebih baik, tetapkan tujuan hidup sekarang dan fokuslah.

Sekar Nareswari
Direktur Personal Growth Center (Konsultan SDM dan Psikologi)
http://www.personalgrowthcenter.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: