Bijak Ketika Digosipkan

“Who gossips with you will gossip of you” ( Pepatah Irlandia)

Pertanyaan:
Saya seorang karyawati di perusahaan swasta dan punya seorang sahabat wanita yang suka sekali menceritakan kejelekan orang lain, baik orang yang saya kenal maupun temannya yang tidak saya kenal. Sesekali saya menanggapi kalau yang dia ceritakan orang yang saya kenal. Kalau tidak, biasanya saya tak menanggapinya. Lama-kelamaan saya juga ikut memercayai apa yang dia ceritakan. Efeknya, saya jadi memiliki kesan buruk mengenai orang yang dia ceritakan keburukannya tersebut.  

Sekitar sebulan yang lalu saya ditelepon seseorang yang saya tidak kenal. Sebut saja A.  A mengatakan bahwa saya ngomong hal-hal yang tidak benar mengenai dirinya lantaran hanya mendapat cerita dari sahabat saya. Si A bahkan mengata-ngatai saya mengenai sesuatu yang ceritanya dia dapatkan dari sahabat saya tersebut. Cerita mengenai saya itu sangat tidak akurat. Saya mengambil keputusan untuk mengambil jarak dengan sahabat saya.

Setelah kami tak bersahabat lagi, saya mendengar cerita dari banyak orang kalau saya sering dia ceritakan. Dan umumnya cerita-cerita tersebut diputarbalikkan, dan hampir semuanya buruk. Hanya gosip semata. Saya baru menyadari bahwa selama ini saya bersahabat dengan orang yang salah. Saya sebenarnya tidak ingin mempersoalkan tindakan sahabat saya menggosipkan saya. Tapi saya ingin tahu bagaimana harus bersikap menghadapi orang seperti dia dan bagaimana menghadapi cerita-cerita yang diputarbalikkan tersebut? Terima kasih. (fitryana.ghd@gmail.com)

Jawaban:
Dalam kehidupan sosial, ”gosip” adalah bagian dari kehidupan kita. Memang, kebiasaan mengobrol dan membicarakan banyak hal adalah aktivitas menyenangkan dan bisa menambah keakraban. Tapi adakalanya, obrolan bisa berujung menjadi aktivitas bergosip. Sayangnya tidak semua dari kita mengetahui batasan apa yang bisa diartikan sebagai gosip, dan apa yang hanya berupa obrolan saja. Misalnya, ketika membicarakan orang lain, adakalanya kita dengan sengaja atau tidak membicarakan karakternya. Jika didengar oleh orang lain, fakta tentang karakter tersebut bisa merugikan orang yang kita bicarakan, dan akhirnya bisa menjadi fitnah.

Nah, itulah yang dialami Mbak Fitryana. Barangkali, sahabat yang diceritakan Mbak Fitryana itu tidak bermaksud mengadu domba orang lain,  tetapi yang jelas dia tidak bisa membedakan bahwa berbagi cerita pribadi itu sama pentingnya dengan menitipkan kepercayaan yang harus kita jaga dengan baik. Saya bisa memahami perasaan Mbak Fitry, bahwa menjadi subjek yang diceritakan tidak benar itu pasti bisa menaikkan emosi dan pasti ingin melakukan klarifikasi. Namun, sebelum melakukan tindakan apa pun, ada baiknya dicoba langkah-langkah berikut:

  1. Tenangkan diri terlebih dahulu. Tahan diri untuk langsung bereaksi tanpa berpikir dengan tenang. Kalau kita tahu bahwa cerita itu tidak benar, buat apa kita menanggapinya? Buang-buang waktu dan energi saja. Lebih baik kita menunjukkan kedewasaan kita.
  2. Jangan cepat percaya pada apa yang dikatakan seseorang. Kita harus mengecek kebenarannya terlebih dahulu.
  3. Dengarkan semua gosip sampai tuntas. Jangan lantaran hanya menyimak sepenggal saja, kita sudah terpancing menjadi emosional. Apabila ini terjadi padahal gosip itu belum tentu benar, maka si penyebar gosip akan merasa senang karena melihat kita telah masuk dalam jebakannya.
  4. Usahakan untuk mencari tahu kebenaran tentang gosip tersebut dan tanyakan kebenaran langsung kepada orang yang bersangkutan. Sebaiknya komunikasikan dengan baik. Caranya kita mengontrol penyampaian kalimat dan ekspresi wajah dengan selayaknya agar yang ingin kita ketahui terpenuhi.
  5. Diskusikan masalah ini dengan teman-teman dekat dan mintalah pendapat mereka. Apa pun pendapatnya, baik itu positif maupun negatif, jangan kita sangkal.
  6. Evaluasi tentunya harus kita lakukan. Kita perlu mengingat-ingat apakah pernah lepas kontrol ketika membicarakan sesuatu yang menimbulkan persepsi berbeda. Dan mungkin hal ini juga bisa menjadi pelajaran untuk selanjutnya dalam berteman.

Sebenarnya seseorang yang suka bergosip bisa menjadi petunjuk sifat dan kepribadiannya, apakah dia berkepribadian baik atau buruk. Penelitian mengatakan, apa yang kita lihat pada orang lain tidak lebih dari sebuah cerminan terhadap gambaran diri kita sendiri, hanya saja mediumnya melalui diri orang lain. Jadi sikap terbaik yang bisa Mbak Fitry ambil sudah benar, yaitu dengan mengambil jarak dengan sahabat pegosip itu.

Bonita D Sampurno
Direktur YPI Training Centre & Consultancy ”Up Grade Your Personal Image”/ email: info@ypitrainingcentre.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: