Kenapa Minta Maaf Saja Gengsi?

“Apology is a lovely perfume; it can transform the clumsiest moment into a gracious gift.” Margaret Lee Runbeck

Tanya: Ibu Bonita, saya ingin sharing mengenai fenomena zaman sekarang ini di mana sebagian besar orang susah banget meminta maaf. Saya mengalami kejadian baru-baru ini  yang menjengkelkan dan merugikan. Dan yang membuat saya tambah gondok adalah ketika seseorang yang sudah tahu salah, alih-alih meminta maaf, dia justru tampak menantang saya.

Ceritanya, saat saya mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan  sudah memperkirakan akan berhenti karena kira-kira dua meter di depan saya ada lampu merah. Saat saya berhenti, tiba tiba “duuug”! Ada seseorang pengendara sepeda motor yang menabrak mobil saya.

Saya pun bergegas membuka pintu dan keluar untuk mengecek mobil bagian belakang saya yang ternyata memang penyok akibat ditabrak oleh motor tersebut. Belum sempat saya bertanya kepada si penabrak, eh malah saya dibuat kaget oleh bentakannya dalam bahasa Jawa yang artinya, “Lihat apa? Siapa yang nabrak?” Duh, dalam hati saya marah bukan kepalang, tapi saya berpikir kalau saya meladeni orang ini bukannya menjadi baik-baik malahan akan runyam.

Akhirnya saya putuskan untuk meninggalkannya tanpa berkata apa pun. Saya tidak habis pikir, untuk urusan minta maaf, apa sih susahnya? Toh kalau tidak bisa mengganti kerusakan mobil, cukup maaf saja bisa membuat  saya agak lega dan tidak akan melanjutkan insiden itu. Yang ingin saya tanyakan bagaimana meminta  maaf secara benar dan apa yang harus kita ucapkan saat menerima pernyataan maaf dari orang lain? Terima kasih. Sandra (kasandra.noer@yahoo.com)

Jawab:

Memang meminta maaf bukan hal yang mudah dan malah dianggap sebagai   beban bagi kebanyakan orang. Ada rasa malu, gengsi sampai perasaan takut dianggap bersalah apalagi merasa tidak bersalah, bahkan kalau menyadari bersalah pun lebih baik lempar kesalahan kepada orang lain daripada mengakuinya dan meminta maaf.

Kasus Mbak Sandra di atas juga menunjukkan kepada kita bahwa daripada disuruh mengganti dan dimarahi lebih baik marah duluan. Hal seperti inilah yang sering kita jumpai di lingkungan kita. Tidak jarang pula kita mendengar kalimat-kalimat yang dikemas terkesan membela diri seperti ”Sebenarnya saya sudah begini, bla bla… tapi (orang lain/bagian lain/apa saja yang bisa disalahkan ) yang membuat seperti ini.” (Pihak lain disebutkan agar diri sendiri seolah olah tidak bersalah. Atau, bahkan langsung menyalahkan: kenapa tidak begini atau begitu, kenapa tidak bilang dulu, dan lain-lain.

Mengakui kesalahan sesegera mungkin setelah kita menyadarinya akan jauh lebih baik daripada akhirnya mengakibatkan permusuhan dan membangun kebencian serta mengakibatkan putusnya tali silaturahmi. Sebagai makhluk sosial kita tentunya tidak pernah lepas dari berkomunikasi atau pun menjalin hubungan dengan orang lain dengan berbagai kepentingan yang tentunya kita juga tidak pernah bisa menghindari benturan atau perselisihan, kesalahpahaman.

Berbuat Salah atau Khilaf

Setiap orang pasti pernah berbuat salah sekecil apa pun meski jarang diakui atau disadari. Yang berarti dapat kita artikan berbuat salah adalah hal yang manusiawi. Yang membuat kurang manusiawi adalah tidak mau meminta maaf karena tidak menyadari bahwa manusia mempunyai keterbatasan dan bisa berbuat salah.

Meminta maaf dan memaafkan sebaiknya dilakukan dengan hati yang tulus dan konsisten untuk menjalaninya. Bukan sekadar lip service supaya orang mau memaafkan kesalahan kita atau karena kita masih punya kepentingan yang lain. Misalnya, kalau dia adalah atasan kita, ya kita minta maaf karena kita masih butuh dia. Tapi kalau dia bawahan, kita tidak perlu minta maaf. Dalam hal ini, permohonan maaf hanya dilakukan berdasar kebutuhan belaka.

Meminta maaf juga bukan sekadar keinginan kita untuk bersedia memperbaiki kesalahan tetapi juga kerelaan kita untuk mengakui kelemahan kita sebagai manusia yang tidak sempurna. Memang sebuah kata maaf belum tentu mengubah keadaan. Yang sudah terjadi tidak bisa diubah namun paling tidak, permintaan maaf akan membuat orang yang sudah kita rugikan akibat tindakan kita akan merasa lebih baik dan tentunya kita masih tetap bisa mempertahankan hubungan baik.

Untuk itu perlu disiapkan beberapa hal seperti :

  • Niat dan keikhlasan dari dalam hati, mau introspeksi diri agar tidak lagi mengulang kesalahan yang sama di masa mendatang. Meminta maaf memang membutuhkan kebesaran dan kelapangan hati karena merupakan proses pendewasaan diri.
  • Setelah meminta maaf, siapkanlah diri untuk berkomunikasi dengan orang tersebut dan selalu berpikir positif karena permintaan maaf setidaknya sudah mengurangi beban diri kita.
  • Pilihlah tempat dan waktu yang tepat pada saat meminta maaf agar orang tersebut mau menerima dengan baik. Berikan penjelasan dan siap bertanggung jawab serta menyiapkan diri untuk menerima akibatnya.
  • Gunakan nada suara dan kata-kata yang baik, enak didengar dan ekspresi wajah yang  tulus. Tunjukkan empati dan perasaan bahwa kita menyesali apa yang sudah kita lakukan itu salah dan menyakiti orang lain.
  • Simak ucapan Lauren Bloom dalam The Art of Apology: ”Serius meminta maaf akan membuat Anda dihargai.”

Bagi yang menerima pernyataan maaf, tunjukkan kebesaran hati dengan ekspresi wajah yang baik bahwa orang tersebut sudah mau melakukannya. Sesakit apa pun yang sudah dibuat oleh orang tersebut dan sebesar apa pun kesalahannya tetap harus kita maafkan secara tulus.

Jangan menetapkan syarat dan ketentuan khusus dalam memafkan seseorang misalnya dengan mengatakan, ‘’Kalau kamu mau begini atau begitu ya nanti saya maafkan.” Atau, ”Iya, saya maafkan, tapi…”

Meminta dan memberi maaf bukanlah tujuan akhir, tetapi ini adalah langkah awal yang akan kita mulai. Sebab, tak seorang pun manusia yang sempurna, termasuk diri kita. Kalimat bijak Paul Boese, “Forgiveness does not change the past, but it does enlarge the future” Patut kita simak. Ya, permintaan maaf tak mengubah masa alu, tapi ia akan memperluas masa depan.”

Bonita D Sampurno
Direktur YPI Training Centre & Consultancy ”Up Grade Your Personal Image”/ email: info@ypitrainingcentre.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: