Denyut Teknopreneur Semarang

Era teknologi informasi melahirkan banyak miliarder-miliarder baru. Nama Bill Gates, pendiri perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft, tentu menjadi yang terdepan di dalamnya. Berkat teknologi dan kemampuannya berbisnis, dia menjadi orang terkaya di dunia (versi majalah Forbes) sejak tahun 1995. Sekarang ribuan atau mungkin jutaan orang di dunia sukses menjadi teknopreneur baik dalam sekali global maupun lokal.

Kreatifitas dan skill menjadi kunci utama mereka yang menjadi teknopreneur sukses, modal finansial bisa jadi hanya merupakan faktor kesekian yang harus dipikirkan. Bill Gates sukses dari sebuah garasi, begitu pula teknopreneur lainnya. Tidak heran karena untuk menjadi teknopreneur di bidang teknologi informasi, modalnya bisa jadi hanya dengan seperangkat komputer.

Bagaimana dengan denyut Teknopreneur Semarang? Meski tidak tidak terlalu besar, teknopreneur Semarang terus berkembang seiring dengan banyaknya pendidikan teknologi informasi yang di dalamnya juga mengajarkan kewirausahaan. Tidak hanya diajarkan teknologi, mahasiswa juga diharapkan untuk memiliki mindset seorang tenterpreneur. Secara lengkapnya, berikut ini jawaban Ridwan Sanjaya, Pakar IT dan Dosen Unika Soegijapranata Semarang, saat ditanya Tabloid Simpang5.

Peran Kampus dalam Mencipta Teknopreneur
Saat ini mulai banyak kampus di Semarang, yang mempunyai fakultas TI di dalamnya, telah memasukkan kewirausahaan ke dalam kurikulumnya, karena menyadari pentingnya memberikan wawasan kepada mahasiswa untuk bukan hanya menjadi pencari lapangan kerja (job-seeker) tetapi juga pencipta lapangan kerja (job-creator).

Idealnya, memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk menjadi technopreneur merupakan aktivitas para pengajar di semua aktivitas mengajarnya, tidak terbatas atau tergantung pada mata kuliah kewirausahaan semata. Sayangnya yang sudah ada di kurikulum ini-pun masih banyak yang berupa tempelan, yaitu sekedar memberikan wawasan semata. Belum sampai pada motivasi perubahan mindset dan menumbuhkembangkan jiwa entrepreneur.

Namun hal ini tentunya bisa dibilang merupakan langkah maju karena sebelumnya kampus hanya berpikir untuk memberikan dasar berpikir atau kesiapan kerja semata. Apalagi dalam beberapa kesempatan, kampus juga mendorong perubahan mindset tersebut melalui berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Langkah maju tersebut tampaknya juga diimbangi oleh pemerintah (Dikti). Terdapat program-program kompetisi tahunan seperti Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) dan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) yang bisa juga ikut menstimulasi mahasiswa TI untuk terus berpikir kreatif dan mendapatkan tempat dalam mengujikan konsepnya seakan-akan sebagai technopreneur.

Dengan kegiatan-kegiatan semacam itu, dosen juga mendapatkan tempat untuk mendorong mahasiswa-mahasiswanya untuk berbuat beda dan berpikir kreatif, sebagai bekal awal menuju jiwa entrepreneur. Meskipun saat ini hasilnya belum terlalu tampak, tetaplah jangan disikapi skeptik. Dengan memberikan sedikit waktu lebih panjang, saya optimis akan melihat para mahasiswa menjadi para technopreneur sebelum maupun sesudah lulus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: