Uh, Rasanya Dipermalukan di Depan Umum…

“Any fool can criticize, condemn, and complain but it takes character and self control to be understanding and forgiving.” ~ Dale Carnegie

Saya ingin berbagi pengalaman buruk seorang peserta salah satu training saya beberapa waktu lalu. Belum sempat saya menikmati rehat kopi saat mendadak dengan agak emosional dia menceritakan pengalamannya. Saya, sudah pasti, langsung memberi tanggapan.

Ceritanya, suatu hari,  Ibu Sri (nama disamarkan), marketing manager sebuah perusahaan jasa acara (EO) diminta untuk membuat proposal penawaran oleh sebuah perusahaan. Setelah dibuat oleh timnya, proposal itu dipresentasikan kepada Bagian Umum (perusahaan peminta proposal). Sekitar 80% isi proposal disetujui Bagian Umum dan tinggal menentukan hari untuk eksekusi acaranya. Beberapa hari kemudian, tim Ibu Sri diminta mempresentasikan proposal tersebut kepada manajemen beserta General Managernya. Tentu saja, yang mereka presentasikan adalah hasil yang sudah disetujui Bagian Umum karena mereka menganggap bagian itu sudah mewakili Manajemen.

Tapi apa yang terjadi? Di depan tim, sang General Manager (GM) malah memaksa bagian umum (setengah mengomeli) untuk mempresentasikan apa tujuan acara tersebut dan beberapa keterangan lain sehingga kesepakatan yang ditaksir sudah 80% seperti mentah lagi. Setelah melalui perdebatan (bagian umum mengatakan sudah mengumumkan soal acara kepada semua bagian), Bagian Umum melakukan presentasi yang kacau-balau (masih dalam bentuk MS Word bukan Power Point).  Itu mengesankan bahwa tidak ada komunikasi dalam jajaran manajemen perusahaan. Yang ada malah kesan show of power, atau unjuk kuasa.

Saat Ibu Sri dan timnya mempresentasikan proposal, mereka langsung dikomentari  secara terang-terangan oleh sang GM bahwa mereka tidak profesional. Yang lebih menyakitkan, saat sang GM sempat bilang, ”Ck… gimana sih nih EO-nya?’’ Bahkan, dia langsung berdiri dan menulis di papan tulis untuk menjelaskan panjang lebar tentang maksudnya yang berbeda persepsi dengan tim ibu Sri. Yang keterlaluan, dia menceramahi Ibu Sri dan tim mengenai teori manajemen dan banyak lagi lainnya.
Padahal, sekali lagi  ini hanya soal mispersepsi saja. Ibu Sri dan tim menjelaskan sesuai yang sudah disetujui Bagian Umum, tapi sang GM menghendaki semuanya dari awal alias mentah. Sebenarnya, mereka sudah menyiapkan bahan seperti yang diminta oleh GM, hanya saja Ibu Sri dan tim menjelaskan dari awal yang berbeda.

Sebagai seorang Marketing Manager, Ibu Sri merasa malu, apalagi diperlakukan seperti itu didepan timnya. Wajar saja, saat menceritakannya, dia begitu emosional sembari berulang kali dia mengusap air matanya.  Ibu Sri beranggapan bahwa sang GM boleh saja merasa tidak puas atas presentasi yang dia dan tim lakukan. Tapi, seyogianya hal itu disampaikan dengan baik tanpa membuat orang lain tersinggung. Inti keluhan Ibu Sri adalah benarkah apa yang dia rasakan dan apakah boleh seseorang yang sudah mempunyai jabatan seperti sang GM melakukan hal itu?

Nah pembaca yang budiman, mungkin saja kita juga pernah mengalami hal serupa Ibu Sri. Dan pasti, kita akan merasa malu dan marah (dalam hati ). Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan, semakin tinggi jabatan, seharusnya seseorang semakin bijak dan mampu mengontrol diri dengan baik. Apalagi hal ini dilakukan di depan umum, maksudnya di depan tim manajemennya yang notabene anak buah Ibu Sri.
Dari Ki Hajar Dewantara, kita mengenal konsep kepemimpinan ”Ing ngarsa sung tulada, ing madya bangun karsa, tut wuri handayani ”. Itu artinya seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan bagi pengikutnya, bisa berdiri sejajar sebagai teman sejati yang memberi semangat juga merasakan suka duka bersama, dan sebagai orang tua yang terus memotivasi tanpa harus membatasi gerak langkah agar menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Jika mengacu konsep kepemimpinan tersebut, kita tidak melihatnya pada sang GM. Di depan pihak luar (Ibu Sri dan tim), seharusnya dia menunjukkan kekompakan tim kerjanya dan bukannya malah mempermalukan timnya karena sebenarnya dia tidak siap di depan pihak luar. Kalaupun akan memarahi mereka, lebih baik ketika pihak luar sudah tidak bersama mereka. Demikian juga, kalau tidak setuju dengan presentasi pihak luar, seharusnya dia tidak langsung melontarkan kata-kata yang membuat orang lain tersinggung dan malu.

Ya, kita boleh menegur atau mengkritik orang lain tetapi sebaiknya tidak di depan umum. Upayakan tidak ada orang lain yang ikut mendengar karena hal ini menyangkut perasaan dan harga diri seseorang. Kritik bisa menjadi sesuatu yang membangun, tapi juga bisa menjadi hal yang menjatuhkan, tergantung cara penyampaian dan penerimaannya. Tujuan utama mengkritik sebaiknya untuk memperbaiki kualitas seseorang. Karena berkenaan dengan harga diri seseorang, maka hal itu harus disampaikan dengan benar. Kalau tidak, orang yang dikritik bisa salah mempersepsikan, dan akhirnya bisa membuat orang lain tersinggung dan marah.

Sebaiknya kita juga memperhatikan siapa yang akan kita kritik. Hubungan yang berbeda, tentu berbeda cara pendekatannya. Misalnya, cara berbicara dengan orang di kantor sendiri tentunya berbeda dari cara bicara dengan pihak luar; berbicara dengan keluarga sendiri akan berbeda bila berbicara dengan teman sekantor. Jangan pernah mengkritik orang di depan banyak orang. Siapa pun itu yang kita kritik akan merasa sangat sakit hati jika kita membuka kelemahannya di hadapan banyak orang. Katakan pada momen yang tepat dan pribadi.

Sikap yang asal-kritik akan memengaruhi penilaian orang lain kepada kita (citra diri/imej). Orang akan menjadi takut dan menjaga jarak dengan kita, dan bahkan bisa membuat kita kehilangan teman dan kolega. Sebaiknya kritik tidak begitu saja meluncur secara spontan tanpa penyaringan terlebih dahulu. Hal yang dikritik pun sebaiknya tidak berupa penilaian mengenai keadaan badan atau fisik, kepribadian, keprofesionalan, atau kebodohan seseorang karena itu akan membuat orang yang dikritik merasa terhina, apalagi bila itu ditujukan pada pihak luar. Walaupun pihak luar adalah penjual jasa, tapi  tetap harus diperlakukan dengan baik sebagai manusia karena pada kodratnya ”setiap orang merasa dirinya penting”.

Seharusnya kata-kata yang akan dilontarkan itu dikemas dengan baik (pilihan kata dan nada suara) karena semua orang yang bekerja adalah orang yang dewasa dan bukan anak-anak lagi. Ingat, perbedaan terbesar antara orang dewasa dan anak-anak adalah pada saat mereka melontarkan pendapat. Anak-anak biasanya spontan dan orang dewasa selalu memikirkan terlebih dahulu apa akibatnya. Kritik yang baik adalah kritik yang membangun bukan malah menjatuhkan mental orang lain. Sampaikan kritik dengan jelas tanpa berbelit-belit supaya bisa ditangkap dengan jelas. Nada suara pun harus terjaga, artinya tidak tinggi dan kasar dan akan terdengar lebih baik kalau kita menyampaikan kata ”maaf ” terlebih dahulu.

Bagi kita yang dikritik, simaklah dengan baik dan terimalah dengan tenang dan tidak emosional apalagi sampai menangis. Berpikirlah positif untuk tidak apriori. Lihatlah kritikan sebagai wujud perhatian orang lain kepada kita. Jangan membalasnya pula dengan kritikan yang lebih tajam. Akuilah kalau memang benar dan jangan langsung tersinggung dan marah. Apabila kritikan tidak benar, kita bisa menyampaikan tetap dengan nada suara yang baik dan kata-kata yang tertata dengan baik untuk menunjukkan kedewasaan kita. Semoga pengalaman Ibu Sri bisa menginspirasi kita untuk berintrospeksi diri dengan bertindak lebih dewasa dan belajar memahami orang lain. Sukses selalu.

Bonita DS, Direktur Sekolah Kepribadian YPI Training centre & Consultancy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: