Dyah Maulana, Sukses Berawal dari Salon Kecil

Nama Dyah Maulana, tentu sudah tidak asing lagi bagi pebisnis yang bergerak di bidang yang berkait dengan pesta pernikahan. Selain terus menciptakan karya-karya yang fenomenal, ibu dua anak ini juga selalu ramah kepada siapa saja yang ditemuinya. Karya-karyanya fenomenal karena telah tujuh kali memecahkan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia)

Mungkin belum banyak yang tahu, jika bisnis Bu Dyah (panggilan akrabnya) benar-benar dimulai dari bawah. Berbekal bakat dan ilmu kecantikan yang diperolehnya dari kursus kecantikan, tepatnya pada tahun 1984, dia memberanikan diri untuk membuka salon. Modal awalnya gunting, sisir, dan kaca lemari yang dilepas dan di pasang di ruang salon.

“Saat itu saya membayangkan masa kecil saya yang suka jika melihat peralatan make up. Bahkan brosur make up ataupun alat make up kadang saya simpan, dan saya ingat-ingat kegunaanya. Saya waktu kelas tiga SD juga sering mewarnai ulang muka artis di kalender, rasanya senang sekali seperti telah merias orang. Hal itulah yang semakin mendorong saya, bahwa di sini lah bakat dan minat saya,” ungkap Bu Dyah saat ditemui di butiknya.

Modal tidak menjadi kendala buat Dyah muda untuk memulai usaha salon, karena baginya ilmu itu modal utama. Berbekal ilmu itulah pelanggan salon terus bertambah dari waktu ke waktu, karena informasi dari mulut ke mulut. Beberapa tahun setelah salonnya berdiri, Dyah mulai mempekerjakan karyawan untuk membantu usahanya. Beberapa kali Dyah juga menerima order untuk rias pengantin.

“Saat itu saya belum menikah, dan tradisi saat itu membuka rias pengantin bagi yang belum menikah itu tabu. Karena itulah saya hanya fokus di salon, meski terkadang juga melayani rias pengantin untuk keluarga sendiri. Setelah saya menikah, baru saya serius mengembangkan rias pengantin,” papar ibu yang sekarang juga memiliki usaha mebel ini.

Sambil terus menjalankan usaha salon, Dyah terus belajar ilmu tata rias. Tepatnya pada tahun 1995, Bu Dyah benar-benar fokus di pelayanan untuk pernikahan. Untuk menarik banyak pelanggan supaya datang ke Maudy, Bu Dyah juga melakukan banyak promosi, baik melalui brosur maupun iklan di bebeberap media.

“Perkembangan Maudy cukup pesat, uang bulanan dari suami juga saya gunakan untuk memajukan Maudy, sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari saya gunakan uang hasil dari Maudy. Alhamdulillah berdiri pada 1995, tahun 1997, kami sudah bisa menunaikan ibadah haji,” ungkap Bu Dyah.

Maudy sendiri awalnya berlokasi di daerah Patriot Jalan Hasanudin dari tahun 1984 – 2003, kemudian pindah ke Perumahan BPI Ngaliyan. Perpindahan tersebut tidak mengurangi pelanggan yang datang ke Maudy, bahkan sebaliknya pelanggan Maudy bertambah dari masyarakat di sekitarnya. “Pekerja seni yang dicari kemampuannya, bukan tempatnya. Jadi meski pindah tempat pelanggan tetap akan mencari,” jelas Bu Dyah.

Sekarang ini, Bu Dyah dengan berbagai usahanya, mulai dari rias pengantin, dekorasi, busana, dan mebel, telah mempekerjakan lebih dari 20 orang karyawan, jumlah itu akan otomatis bertambah jika sedang menerima order pesta pernikahan. Dengan segala pencapaiannya Bu Dyah punya satu keinginan, yaitu membawa tata rias pengantin tradisional go international.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: