Membuka, ’’Menjalankan’’, Menutup

“Presentasi yang baik adalah presentasi dengan pembukaan dan penutupan yang baik serta jarak di antara keduanya dibuat sedekat mungkin” (Awanama)

Bulan lalu,  kita telah membahas cara mempersiapkan materi. Sekarang,  kita  akan membahas perihal persiapan  secara lebih mendalam sesuai dengan sistematika,  yaitu pendahuluan (pembukaan), isi (materi), dan penutup (simpulan).

Pendahuluan
Pendahuluan harus berisi sesuatu yang dapat menangkap perhatian audiens. Perlu diingat bahwa mendapatkan perhatian audiens merupakan prasyarat bagi komunikasi. Semakin besar perhatian yang diperoleh, semakin sempurna komunikasi kita terhadap mereka. Pendahuluan juga bisa digunakan untuk menampilkan kesan pertama bagi audiens, karena ini merupakan langkah awal yang menentukan langkah selanjutnya saat berbicara di muka umum. Apabila pendahuluannya menarik, bisa dipastikan keseluruhan pembicaraan kita akan mudah dan sukses. Maka mulailah membuka dengan hal hal yang menarik minat audiens untuk mendengarkan. Hindari pembukaan yang terlalu formal karena hal itu akan menimbulkan kesan kaku dan kurang alamiah. Hindari pula membuka dengan meminta maaf  karena kita bisa dianggap tidak siap atau topik yang kita sampaikan memang bukan bidang kita, atau kita hanya sekadar mewakili bos yang berhalangan.

Untuk menarik perhatian audiens, kita bisa menggunakan beberapa hal, antara lain:
1.    Pertanyaan kepada audiens.
Ini merupakan strategi tepat untuk mengawalpembicaraan di muka umum, misalnya ’’Siapa di antara Bapak Ibu yang pernah mengalami sebuah keajaiban?”
2.    Cerita.
Setiap orang senang mendengar cerita, lebih-lebih kalau cerita itu mampu membangkitkan motivasi atau menginspirasi audiens. Cerita yang paling efektif adalah pengalaman yang memang pernah kita alami, bukan mengambil cerita dari orang lain. Misalnya, ”Saya bisa menjadi seperti sekarang ini bermula dari sebuah keyakinan saja, karena dengan keyakinan yang besar saya percaya apa pun keinginan dapat kita raih….”
3.    Statistik yang mengejutkan.
”Berdasarkan penelitian, setiap 500 kelahiran, ada 1 yang bayinya mengalami gejala autisme.’’
4.    Pernyataan.
”Berapa lama lagi perusahaan kita ini tercancam tak bisa bertahan kalau kita tidak melakukan perubahan dalam pola kerja mulai dari detik ini….”
5.    Kutipan atau Kolokasi.
Kutipan atau kolokasi yang berasal dari ucapan tokoh penting, baik dari buku, koran, majalah, maupun televisi, bisa kita munculkan sebagai pembuka pembicaraan. Misalnya, ”Dale Carnegie pernah mengatakan, ’antusiasme dapat menyalakan api keyakinan atas kemampuan kita dan meningkatkan rasa percaya diri’.  Nah, hari ini saya akan berbicara mengenai cara membangun rasa percaya diri….”
6.    Lelucon atau Anekdot
Lelucon atau anekdot yang kita munculkan seyogianya tidak terlalu asing atau terlalu sering didengar audiens, serta mengandung unsur edukasi tanpa nuansa porno atau jorok.

Apapun bentuk penarik perhatian yang kita gunakan, pilihan itu harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita bicarakan dan harus cocok dengan keseluruhan isi pembicaraan. Usahakan cara menarik perhatian kita tetap pendek karena pendahuluan atau pembukaan hanya terdiri atas 10-15 persen total waktu bicara kita.

Isi

Isi adalah bagian terpenting dari pesan yang ingin kita sampaikan dan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan  atau harapan audiens. Karena itu, isi harus bisa mencerminkan tujuan dan target yang akan kita capai.
Setelah menarik perhatian melalui pembukaan yang menarik, kita harus meneruskan  jalannya pembicaraan untuk memasuki isi dengan menarik pula agar  perhatian audiens tetap terpusat kepada kita dan agar pesan yang disampaikan dapat mereka terima dengan baik. Yang perlu kita perhatikan, jangan sampai suasana yang sudah rileks ketika pembukaan berubah menjadi tegang dan serius saat memasuki bagian isi. Hal ini akan berakibat buruk bagi presentasi kita karena bisa saja tujuan kita tidak tercapai.
Maka, gunakan teknik-teknik tertentu yang bisa dipakai untuk menjaga perhatian audiens tetap berfokus pada pembicaraan kita. Misalnya, dengan role play, simulasi, cuplikan video singkat, games,  alat peraga, atau melalui gaya berbicara yang menarik, dengan menggunakan kalimat atau ucapan yang mampu membangkitkan emosi audiens. Tentu saja semua peranti pendukung itu tetap harus berkaitan atau tidak melenceng dari materi yang kita bawakan. Selain itu, isi biasanya diperkuat dengan data yang akurat, baik berupa fakta, statistik, hasil riset, contoh, ilustrasi, maupun cerita dan pengalaman.

Penutup
Kita harus menutup pembicaraan dengan jelas, dan tidak lebih dari 3 kalimat. Fungsi penutup adalah memberi penekanan terhadap tujuan pembicaraan kita dan meninggalkan kesan yang bernilai untuk selalu diingat audiens. Penutupan yang dilakukan setelah simpulan adalah klimaks atau dobrakan. Hindari bagian petutup hanya dengan sekadar ucapan ’’terima kasih.’’

Penutup, seperti halnya pembukaan, bisa  bersifat dramatis, emosional, atau retorikal. Kita bisa menggunakan imbauan atau ajakan untuk melakukan suatu tindakan, cerita, kutipan, pertanyaan, slogan seperti pada saat pembukaan. Yang penting, semua itu harus tetap berkaitan dengan topik pembicaraan. Buatlah sebuah penutupan yang ”ear catching dan eye catching”.

Yang pasti, ketiga tahapan pembicaraan di atas merupakan sebuah jalinan yang tak bisa saling dipisahkan. Kalau diibaratkan menyajikan hidangan, sedari hidangan pembuka, main course, hingga dessert-nya membuat konsumen atau orang yang menikmati terpuaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: