Menikmati Solo dari Kampoeng Batik Laweyan

Kampoeng Batik Laweyan Solo bukan sekadar pusat kerajinan dan industri batik. Ada sejarah panjang yang sangat menarik untuk diikuti. Pasang-surut industri batik, konflik, campur tangan penguasa, serta keberhasilan untuk membangkitkan kembali Kampoeng Batik Laweyan, bisa menjadi contoh bagaimana daerah mengembangkan industri dan pariwisata dengan tetap menjunjung tinggi nilai budaya lokal, namun tetap terbuka pada nilai-nilai luar yang membawa perubahan positif dan kemajuan.

Memang banyak sekali tempat wisata di Solo, Anda bisa mengunjungi keraton, menyusuri Bengawan Solo, berburu kuliner di Galabo, mencari batik di Pasar Klewer, dan tentunya yang cukup menarik adalah mengunjungi Kampoeng Batik Laweyan. Saya sendiri waktu pertama kali mengunjungi Solo karena ingin berburu kuliner di kota yang terkenal dengan Timlo, Serabi, dan sate buntelnya ini.

Begitu memasuki Kampoeng Batik Laweyan kita akan langsung merasakan suasana sebuah perkampungan batik. Hampir semua rumah memiliki kios batik dan juga tempat pembuatan batik. Ada juga tugu yang berukiran batik berdiri tepat di tengah perempatan Kampoeng Batik Laweyan. Di dekat tugu tersebut ada peta Kampoeng Batik Laweyan  dan juga tulisan sejarah tentang batik Laweyan. Ini menunjukkan Kampoeng Batik Laweyan memang sangat siap untuk menyambut kedatangan para wisatawan.

Kita juga bisa memesan paket wisata di Kampoeng Batik Laweyan dengan berbagai pilihan yang disediakan dengan menghubungi nDalem Tjokrosoemartan. Kali ini saya mengunjungi Kampoeng Batik Laweyan bersama komunitas blogger dari berbagai penjuru Indonesia. Rute kunjungannya meliputi nDalem Tjokrosoemartan, Langgar Merdeka, Makam Ki Ageng Henis, dan Bunker (ruangan bawah tanah).

nDalem Tjokrosoemartan juga menyediakan paket tambahan antara lain: Aneka hiburan seperti tarian, gamelan, siteran dan lainnya. Menu-menu tradisional khas Solo dengan penataan menggunakan stall atau gubug. Tour De Laweyan, keliling Kampoeng Batik Laweyan dengan menggunakan becak, berbelanja dan melihat proses pembuatan batik dengan durasi  kurang lebih 3 jam. Serta Paket Belajar, proses pembuatan batik.

Menyusuri Kampoeng Batik Laweyan sangat menyenang, lorong-lorong kampung di antara bangunan yang berarsitek Indisch (Jawa – Eropa) menjadi pemandangan yang menarik. Keberadaan “beteng” tinggi yang banyak memunculkan gang-gang sempit dan merupakan ciri khas Laweyan selain untuk keamanan juga merupakan salah satu usaha para saudagar untuk menjaga privacy dan memperoleh daerah “kekuasaan” di lingkungan komunitasnya. Sekarang banyak juga bunga atau tanaman yang menghiasi dan menghadirkan keindahan dan keunikan tersendiri saat melewati gang-gang di Kampoeng Batik Laweyan.

Sejarah
Keberadaan Laweyan jauh lebih tua dari Solo, berdasarkan sejarah yang ditulis oleh R.T. Mlayadipuro seperti yang dikutip Website Batik Laweyan, desa Laweyan (kini Kampoeng Laweyan) sudah ada sebelum munculnya kerajaan Pajang. Kedatangan Kyai Ageng Hanis yang bermukim di desa Laweyan pada tahun 1546 M, membawa arti tersendiri bagi sejarah Laweyan. Kyai Ageng Henis adalah putra dari Kyai Ageng Sela yang merupakan keturunan Raja Brawijaya V. Kyai Ageng Henis atau Kyai Ageng Laweyan adalah juga “Manggala Pinatuwaning Nagara” Kerajaan Pajang semasa Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang pada tahun 1546 M. Berikut sedikit kutipan dari Website Batik Laweyan.

Setelah Kyai Ageng Henis meninggal dan dimakamkan di pasarean Laweyan (tempat tetirah Sunan Kalijaga sewaktu berkunjung di desa Laweyan), rumah tempat tinggal Kyai Ageng Henis ditempati oleh cucunya yang bernama Bagus Danang atau Mas Ngabehi Sutowijaya. Sewaktu Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) pada tahun 1568 M Sutowijoyo lebih dikenal dengan sebutan Raden Ngabehi Loring Pasar (Pasar Laweyan). Kemudian Sutowijaya pindah ke Mataram (Kota Gede) dan menjadi raja pertama Dinasti Mataram Islam dengan sebutan Panembahan Senopati yang kemudian menurunkan raja – raja Mataram.

Pada jaman sebelum kemerdekaan kampung Laweyan pernah memegang peranan penting dalam kehidupan politik terutama pada masa pertumbuhan pergerakan nasional. Sekitar tahun 1911 Serikat Dagang Islam (SDI) berdiri di kampung Laweyan dengan Kyai Haji Samanhudi sebagai pendirinya. Dalam bidang ekonomi para saudagar batik Laweyan juga merupakan perintis pergerakan koperasi dengan didirikannya “Persatoean Peroesahaan Batik Boemi Putera Soerakarta” pada tahun 1935.

Kampoeng Batik Laweyan mengalami masa surut dalam pemerintahan orde baru, karena dianggap sebagai produk yang rugi. Selain itu masyarakat Laweyan juga memiliki peninggalan kekayaan yang berlimpah yang bisa untuk hidup mewah tanpa bekerja. “Tahun 2000 kami mulai promosi lagi. Dan tahun 2004 kita deklarasikan Kampoeng Batik Laweyan. Kampung ini mulai terbuka dan banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Sebelum Unesco memutuskan batik sebagai warisan budaya Indonesia, hampir tiap hari orang Unesco berkunjung ke sini meneliti warisan peninggalan batik,” papar Widyarso, salah seorang pengurus Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: