Kenali Audience Kita

“Mengetahui profil audience adalah rahasia sukses dalam public speaking selain menguasai medan bicara” (Daddo Parus & Ferdi Hasan)

Bulan lalu, kita sudah membahas beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum berbicara di muka umum. Kita akan membahasnya satu per satu, dan yang pertama mengenai AUDIENS, orang-orang yang akan menjadi pendengar kita. Pembicara yang tak mengenali audiensnya mirip seorang nelayan yang tidak mempelajari ’’bahasa’’ dan perilaku ikan.

Mengenali siapa yang akan menjadi audiens kita sangat membantu dalam menentukan bahan atau materi yang akan kita sampaikan. Itu juga untuk meyakinkan diri kita bahwa kita menyampaikan materi yang tepat sekaligus cara kita akan menguraikannya. Kita harus ingat bahwa kepuasan audiens adalah tolak ukur yang bagus untuk mengukur berhasil-tidaknya kita dalam menyampaikan materi. Istilah lainnya, kita harus melakukan kostumisasi bahan pembicaraan kita. Ini beberapa poin dalam mengenali audiens kita, sebagai berikut:

1. Berapa banyak orang yang akan hadir?

Jumlah audiens memungkinkan kita mencari cara terbaik untuk mengelola mereka selama kegiatan berlangsung. Jumlah yang lebih kecil tentu saja lebih mudah dimenej ketimbang jumlah yang besar. Itu karena semua orang yang hadir harus mendapatkan hak yang sama berupa suasana nyaman dan kondusif selama acara sehingga pelibatan audiens bakal bisa dilakukan secara aktif.

Untuk jumlah audiens yang besar, kita harus memperhatikan beberapa hal, misalnya peralatan dan perlengkapan akan lebih kompleks ketimbang untuk audiens yang lebih kecil. Dalam hal ini, dukungan peranti audio sangat penting karena kita harus memastikan suara kita jelas terdengar oleh semua audiens, bahkan mereka yang duduk paling jauh dari kita.

2. Mengapa mereka hadir di ruang ini?

Alasan mereka datang harus pula menjadi perhatian kita. Apa tujuan mereka? Mengapa mereka harus mendengarkan materi yang kita sampaikan? Apa yang membuat mereka bersedia menyimak?

Ini tentunya berkaitan dengan interes dan ketertarikan mereka terhadap topik pembicaraan kita. Tentu saja, mereka juga mengharapkan bisa mengambil manfaat dengan menjadi audiens. Secara prinsipal dapat dikatakan bahwa orang akan tertarik pada hal-hal yang memang bermanfaat untuk dirinya. Untuk itu, kita harus lakukan survei sebelum menyusun materi yang akan disajikan untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Pada saat menyusun materi, kita perlu mengecek ulang beberapa hal: apakah materi yang akan kita sampaikan sudah mencakup keseluruhan harapan dan tujuan audiens; sudah mengena atau tidak;  sudah relevan atau belum. Itu semata-mata untuk mengetahui bahwa materi kita bakal bermanfaat untuk audiens. Sebaiknya, kita perlu pula mempresentasikan dahulu kepada orang terdekat dan minta komentar mereka.

3. Berapa usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin mereka?

Mengetahui latar belakang audiens juga akan memudahkan untuk mengomunikasikan pesan kita. Mulai dari bahasa yang akan kita gunakan, pilihan kata, contoh-contoh maupun teknik penyampaiannya. Audiens remaja atau anak-anak tentunya akan lebih pas bila kita menggunakan gaya penyampaian yang rileks disertai bahasa yang ringan dan istilah-istilah yang populer dalam pergaulan mereka dibandingan gaya serius dengan istilah berat yang mungkin lebih cocok untuk kalangan intelektual. Sebaliknya kaum intelektual juga tidak pas dengan penyampaian yang ’’bergaya remaja’’. Juga mereka yang latar belakang pendidikannya rendah tentu akan mengalami kesulitan apabila kita menyampaikan dengan istilah-istilah rumit yang mungkin cocoknya untuk mereka yang lulus sarjana.

Selain itu, kita juga harus bisa menyederhanakan materi dengan bahasa yang bisa dipahami oleh audiens. Ini bisa dilakukan dengan contoh-contoh nyata atau lelucon yang bisa mereka pahami. Apabila tingkat pengetahuan ini tidak kita pahami, kita akan mengalami kesulitan untuk melibatkan mereka dan mereka pun merasa tidak mendapatkan manfaat dari apa yang kita sampaikan. Jenis kelamin pun harus menjadi perhatian kita. Untuk audiens pria, mungkin kita bisa melempar joke yang kalau ditujukan pada audiens wanita mungkin terdengar vulgar.

4. Apa suku, etnis, dan agama mereka?

Pembicara yang baik selalu juga memahami hal ini karena dengan mengetahui suku, agama, dan etnis kita akan bisa menghindari beberapa hal yang bisa mengakibatkan orang lain tersinggung. Bayangkan apabila di antara audiens kita ada orang beretnis tertentu (dan kita tidak menyadarinya), lalu kita sebutkan sebagai contoh buruk tentang stereotipe etnis tersebut, yakinlah kita akan bertemu persoalan yang tidak mudah.

Yang jelas, dengan mengetahui suku, etnis, dan agama audiens, kita dapat menghindari hambatan semantik dan bisa lebih dekat dengan mereka. Salah satunya dengan mempelajari jargon-jargon atau karakteristik mereka. Misalnya, kalau audiens umumnya orang Jawa, terutama Jawa Tengah, kita bisa membuka pembicaraan dengan salam ’’Sugeng enjang’’ atau ’’Sugeng siang’’. Kita juga bisa mengucapkan salam dalam bahasa agama, misalnya kalau sebagian besar beragama Islam, kita mengucapkan ’’Assalamu alaikum…’’ dan lebih afdol disertai ’’Salam sejahtera untuk kita semua.’’

5. Pelajari gaya belajar audiens.

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Kepribadian mereka dipengaruhi oleh berbagai variabel. Begitu juga cara mereka menangkap informasi. Gaya belajar merupakan kunci untuk menjadikan proses belajar terasa mudah. Bobbi DePorter dan Mike Hermacki dalam bukunya Quantum Learning, membagi gaya belajar menjadi tiga yaitu visual, auditory, dan kinestetik.

1. Visual; orang bertipe visual belajar dengan cara melihat. Pada mereka, sajikan bahan-bahan yang bersifat visual seperti video, gambar, dan lain-lain. Biasanya orang visual menyukai gambar yang menarik, grafik, warna-warni serta simbol-simbol.

2. Auditorial; yang bertipe auditorial belajar dengan mendengar. Sajikan kepada mereka bahan-bahan yang bersifat auditif seperti musik, lagu, dan lain-lain.

3. Kinestetik; tipe ini belajar dengan indra peraba, selalu bergerak dan tidak dapat duduk diam. Sajikan kepada mereka game, permainan, atau kuis agar audiens belajar langsung dari pengalaman mereka.

Karena kita barangkali tak mengetahui secara persis apa kecenderungan gaya belajar audiens kita, apalagi kalau memang jumlahnya banyak yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda, lebih baik kita mempersiapkan semua peranti atau bahan-bahan pendukung yang bisa memenuhi ketiga tipe gaya belajar tersebut. Silakan mencoba. (Bonita.D Sampurno, Direktur ypi training centre &consultancy “up grade your personal image”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: