Wati Sungkono, Sukses Berbisnis dengan Menjaga Relasi

Berawal dari kenal dengan distributor besi, Wati Sungkono dan Suami kemudian mencoba untuk membuka toko besi di LIK Kaligawe Semarang. Awalnya perkembangan toko besi yang buka pada tahun 1992 itu biasa-biasa saja. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 menjadi titik perkembangan toko besi yang dikelola Wati Sungkono dan Suaminya tersebut.  Bahkan kemudian membuka beberapa cabang di Semarang, sampai sekarang Bu Wati panggilan akrabnya, sudah membuka empat toko besi dan satu toko bangunan.

Kesuksesan Bu Wati dalam berbisnis toko besi tersebut tentu tidak datang dengan sendirinya. “Pertama kita harus mampu memanage toko kita. Kedua menjaga relasi dengan pelanggan dengan sering melakukan kontak dengan pelanggan dan juga jujur kepada pelanggan seperti selalu berterus terang kepada pelanggan tentang kualitas barang yang ditawarkan, jika bilang A maka memang A,” ungkap Bu Wati saat ditanya tips sukses mengembangkan usahanya.

Yang tidak kalah penting dalam mengembangkan bisnis tersebut adalah harus pandai melihat pasar. Semisal sedang melakukan survey ke daerah tertentu harus mampu menilai kebutuhan masyarakat sekitar dan mampu mengenal karakteristik masyarakatnya, karena kebutuhan tiap daerah berbeda. “Dan yang utama jika ingin sukses dalam berusaha adalah selalu berdoa kepada Sang Pencipta,” tandas Bu Wati saat ditemui di Pringgondani yang bertempat di Jalan Supriyadi.

Sukses berbisnis toko besi dan bahan bangunan bersama suami, membuat Bu Wati tertantang untuk menekuni bisnis yang sesuai dengan hobinya. Kebetulan pula waktu itu Bu Wati memiliki tempat di Jalan Supriyadi, maka sejak tahun 2004, dibukalah Pringgondani Gym. Tidak butuh waktu lama Pringgondani Gym telah mampu menarik minat ratusan orang untuk menjadi anggotanya.

“Karena mendapat sambutan positif dari masyarakat, di tempat ini kemudian kami sediakan pula tempat fitnes. Peralatan fitnes di sini sudah modern layaknya di tempat fitnes hotel-hotel berbintang di Semarang. Harga di sini juga sangat terjangkau, tempatnya nyaman, dan yang tidak kalah penting instruktur yang dihadirkan semua instruktur senior,” jelas wanita asal Purwodadi ini.

Tentu untuk membangun tempat fitnes dan senam tidak semudah yang dibayangkan, apalagi pengetahuan tentang bisnis tersebut juga tidak mudah untuk didapatkan. Wanita yang mulai tinggal di Semarang pada tahun 1989 ini tidak mati akal. Dia pun kemudian ikut menjadi anggota tempat senam dan fitnes, dari situ selain berolahraga, wanita yang tinggal di daerah Lamper Tengah ini juga mempelajari bagaimana bisnis tersebut dijalankan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: