Hunian Ramah Lingkungan Menjadi Tuntutan Produk Property 2010

Desain rumah tinggal pada tahun 2010 akan lebih mengarah ke hunian yang ramah lingkungan dan tidak mengacu pada dominasi style tertentu. Namun, secara tampak, desain yang simpel dengan bentuk minimal masih banyak mempengaruhi desain arsitektur pada 2010 ini.

Desain arsitektur dan interior seperti juga fashion, selalu berputar dan berevolusi sejalan dengan isu yang sedang “in”. Pada saat ini seluruh dunia sedang bersama-sama menghadapi krisis global warming yang secara perlahan, tapi pasti sedang merusak lingkungan kita.

Arsitektur sebagai bidang yang berhubungan langsung dengan lingkungan sudah sewajarnya berdiri paling depan dalam mengatasi krisis tersebut. Sebagai bentuk kepedulian kita sebagai seorang arsitek, desain secara langsung maupun tidak langsung makin mengarah kepada bangunan yang green dan sustainable.

Green architecture atau desain yang “hijau” sebenarnya tidak mengacu ke satu jenis style, tetapi lebih mengarah kepada desain dan proses penggunaan bangunan yang ramah lingkungan, serta bisa menjaga kelestarian sumber daya alam kita dengan cara mengefi siensikan penggunaan listrik maupun air selama bangunan tersebut digunakan.

Tujuan utama dari green building ini adalah mengurangi dampak negatif sebuah bangunan terhadap baik lingkungan dan kesehatan kita sebagai penghuninya. Yang menjadi ciri dari sebuah green building di antaranya adalah lebih banyak yang terbuka (tanaman) sehingga perbandingan antara bangunan dan ruang terbuka lebih harmonis. Fenestrasi pada massa bangunan baik yang bersifat visual (jendela dan pintu lebar) juga akan bertambah guna memaksimalkan cahaya alami yang masuk pada setiap ruang sehingga dapat menghemat penggunaan lampu pada siang hari.

Perancangan letak fenestrasi yang baik juga bisa menciptakan cross ventilation sehingga penggunaan AC dapat diminimalisasi. Penggunaan material daur ulang juga makin marak dipakai sebagai bagian dari bangunan, apakah yang bersifat struktural maupun sebagai pengisi. Ciri lain yang terlihat adalah penggunaan sumur resapan sebagai sarana untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Penggunaan tanaman (soft-scape) sebagai bagian dari desain arsitektur juga mulai banyak diterapkan sebagai usaha memperluas bidang hijau. Penerapannya bisa pada bidang vertikal sebagai penutup dinding, tanaman rambat, kisi-kisi dengan rambatan pohon, pot-pot yang disusun vertikal atau sebagai partisi maupun pada bidang horizontal. Beberapa bangunan, bahkan sudah lebih maju lagi menggunakan sumber energi alternatif seperti panel-panel photovoltaic sebagai sumber energi listrik.

Respons pengembang terhadap masalah lingkungan yang sedang kita hadapi saat ini cukup tanggap. Beberapa pengembang besar sudah memakai ide “rumah ramah lingkungan” tersebut sebagai marketing gimmick dan bahkan sudah diterapkan pada desain rumah-rumah yang mereka jual ke publik. (Agung Salladin, Manajer Kekancan Wika Realty KSO – Semarang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: