Memotret Kota

memotret kotaSaat kita menuju suatu kota, untuk pertama kalinya, seringkali kita diarahkan untuk menuju satu area yang cukup dikenal. Kota Semarang misalnya, ada daerah Tugumuda atau Simpang Lima. Kemudian bermula dari titik tadi kemudian mengarah ke daerah yang diinginkan.

Di area tadi, terdapat pula bangunan-bangunan yang menjadi ’tetenger’ yang memudahkan kita mengingat, seperti kalau di Tugumuda ada Lawang Sewu, Wisma Perdamaian, Gereja Katedral dan lainnya. Yang fotonya banyak terpajang di buku petunjuk wisata.

Secara fotografis, ’tetenger’ kota ini disebut dengan cityscape. Secara teknis pula tidak banyak bedanya dengan memotret landscape. Landscape adalah keindahan alam yang diciptakan Yang Kuasa, sedangkan cityscape atau bangunan arsitektural adalah keindahan yang dibuat oleh manusia.

Pencahayaan, kualitas, dan arah
Mengabadikan bangunan di sebuah kota, bisa asal jepret, namun ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan bila ingin memotret arsitektur. Pencahayaan sepanjang hari umumnya menggunakan sumber alami yaitu matahari. Perhatikan arah cahaya, dan jam berapa Anda memotret. Pagi dan sore hari cahaya cenderung lembut, dan siang hari lebih keras. Bangunan Lawang Sewu misalnya, untuk bagian luar akan terlihat jelas bagus di sore hari, karena bangunan menghadap Barat, namun untuk interior dan bagian dalam, lebih bagus pada pagi hari. Perhatikan juga arah bayangan jatuh (shadow). Bayangan yang pas, juga akan mempertegas karakter gedung.

Garis edar semu matahari atau ekliptika, juga mesti diperhatikan. Arah bayangan pada pada setiap bulannya pasti berbeda. Konon, kota lama Semarang paling bagus difoto pada bulan September-Oktober, saat matahari condong ke Utara.

Nightshoot
Foto-foto bangunan juga indah saat malam hari, disaat lampu-lampu taman atau sorot menyala pada struktur bangunan. Namun, untuk mengabadikan foto malam ini tidak mudah. Kondisi cahaya yang kurang, akan mengurangi detail bangunan. Fokus juga seringkali bergeser pada area-area yang terang. Triknya adalah potret berulangkali dengan menggunakan metode bracketing, dengan pilihan variasi  beberapa kecepatan, diafragma dan ISO. Gunakan pula tripod untuk menyeimbangkan gambar.

Gunakan Lensa Panjang
Seringkali kita terlalu dekat dengan gedung, atau menggunakan lensa lebar, akibatnya dalam foto, terlihat distorsi. Dinding-dindingnya seolah mencuat, meskipun hal ini juga terlihat unik. Penggunaan lensa standart atau tele, akan memperbaiki pandangan sehingga nampak wajar. Selain itu juga bisa menciptakan obyek-obyek yang unik dengan perspektif yang rata.

Ambil detil
Selain keseluruhan bangunan, coba lihat detil unik dan menarik yang mengelilingi gedung. Hiasan atap, kubah yang unik, jendela besar, pernik-pernik yang menempel di dinding luar, dan masih banyak lainnya. Carilah dan foto dengan sudut yang tidak biasa. Hal-hal ini seringkali bisa memperkuat karakter bangunan.

Tidak hanya gedung

Kebanyakan orang berpikir bahwa foto arsitektur adalah foto gedung. Padahal kalau mau melihat, masih banyak hal yang dibangun oleh manusia. Jembatan, monumen, menara, bendungan, lampu jalanan, dan masih banyak lainnya. Banyak hal yang tidak ’terlihat’ karena kita terbiasa melewatinya setiap hari, sehingga seolah-olah sudah paham benar dan tidak merasakan keunikannya.

Memotret arsitektur memang bisa dilakukan kapan saja, untuk itu coba pahami dengan memotret di setiap waktu. Lihat pula perubahan yang terjadi. Bagi negara dengan dua musim, seperti Indonesia, perubahan tak banyak dirasakan. Namun di negara dengan perubahan empat musim, suasana arsitekturalnya berubah dari waktu ke waktu. Saat musim salju, musim gugur atau musim semi, pasti kondisi dan lingkungan bangunan selalu berbeda.

Selain hal teknis diatas, ada hal non teknis, seperti kebijakan kota. Baik mengenai media luar ruang dan juga penempatan ikon baru. Saat ini, sulit untuk memotret Lawang Sewu atau Masjid Baiturrahman di Simpang Lima, tanpa menampakkan baliho iklan di sekitarnya. Banyak gedung yang arsitekturnya indah, namun hilang karena tertutup iklan.

Untuk ini memang pemimpin yang bijak mesti memperhatikan, agar identitas kota, tidak ’hilang’ tertutup rimba iklan.

(Rahman Hakim, principal Total Lighting School of Photography)

One Response

  1. Wah… makasih banyak nih tipsnya… tapi kalau misalnya pakai kamera pocket… ada tips khusus ga???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: