Papillon Studio Ingin Angkat Pamor Komik Lokal

papillon studio (2)Mungkin tak ada yang menyangka jika beberapa komik berkelas dunia, dibuat di Semarang. Nama Papillon Studio mungkin tidak banyak yang tahu. Namun dari tangan-tangan terampil anggota komunitas yang kini telah masuk ke industry komik ini lahir puluhan judul komik yang di antaranya dijual hingga ke Amerika Serikat dan Afrika Selatan.

Papillon Studio yang punya basecamp di Jalan Bukit Cempaka 2 No 52 Sendang Mulyo Semarang ini dikoordinatori oleh Alfa Robi. Dengan hanya berawak 5 orang, Papillon studio mampu memproduksi komik-komik berkelas dunia. Alfa Robi mengatakan komunitas tersebut berawal dari hobi beberapa orang yang sangat menggemari komik. “Kami melahap berbagai komik. Mulai komik Amerika, Eropa, hingga Jepang. Itulah yang menjadi trigger kami agar bikin komik seperti mereka,” katanya.

Sebelum menjadi Papillon Studio, nama komunitas tersebut adalah Caterpillar yang berarti ulat. Terbitan pertama Papillon adalah komik Boneka Kematian dan dilanjutkan dengan serial tokoh nasional (STN) Diponegoro. Seiring kualitas produknya yang bagus, beberapa penerbit luar negeri pun memberikan kepercayaan Papillon untuk membuat komik. “Kami menerima deskripsi dan menerjemahkannya dalam bentuk gambar,” kata Alfa.

Produk papillon pun dijual hingga ke Amerika dan Afrika Selatan. Amerika lanjut Alfa, suka dengan komik-komik superhero. Selain itu, mereka juga membuat komik drama, horror, dan komik indie. “Dari dulu memang berkeinginan hidup dari komik, dan ternyata bisa,” paparnya.

Fajar Buana sekretaris Papillon mengatakan kini jumlah komik yang dibuat mencapai puluhan. Baik yang bersambung maupun tidak. Beberapa judul yang sudah diterbitkan di antaranya, Boneka Kematian, Sajadah Ahmad, Krazy Lamb, Planetary Brigade, Milk Pool, Diponegoro, dan Monster Island.

Dalam waktu dekat, awak Papillon bahkan berencana menuangkan kembali petualangan tokoh-tokoh komik lokal ke dalam komik. Yang sudah direncanakan adalah membuat kembali kisah Gundala Putra Petir. Berikutnya masih ada rencana untuk terus mengangkat tokoh-tokoh hero lokal seperti Si Buta dari Goa Hantu. “Sudah menjadi komitmen kami untuk terus mengangkat komik lokal karena saat ini kita terus dijajah komik Jepang,” katanya.

Menurut Fajar, komik-komik Jepang seharusnya dibatasi peredarannya di Indonesia agar komik lokal terangkat. “Saat ini semua judul komik Jepang dibiarkan masuk, komik lokal malah tidak dikenal,” kata dia. Padahal di luar negeri komik lokal justru banyak diapresiasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: