Gado-Gado dan Es Pankuk Pak Yono Langsung Bikin Segar

Siapa yang tak kenal gado-gado? Menu ini disukai segala usia. Di Semarang, yang akrab di lidah pecinta kuliner salah satunya gado-gado dan es pankuk Pak Yono yang terletak di Jalan Tanjung, tepat di belakang kantor PLN. Setiap harinya, warung tenda kaki lima ini tak pernah sepi dari pengunjung.

Bahan dasar gado-gado ini sebenarnya sama dengan yang dijajakan di tempat lain. Ada telur, lontong, irisan kentang, mentimun, tomat, dan selada. Di atasnya ditaburi bawang goreng dan kerupuk udang, serta emping yang sudah dihancurkan. Yang tidak ada adalah tahu, tempe, jagung, dan labu seperti yang terdapat pada gado-gado khas Jakarta.

Cita rasanya terletak pada paduan bumbu pada sambal kacangnya. Lilik Bimantoro, putra Pak Yono mengatakan, sambal tersebut selalu diracik oleh ayahnya sendiri. “Dulu bapak membuatnya secara manual dengan cara digiling, sekarang alatnya dimodifikasi menggunakan mesin,” katanya. Bumbu inilah pencipta rasa paduan gurih, dan manis yang membuat pembeli ketagihan. Menyesuaikan selera konsumen, sambal pedas akan dibubuhkan di pinggir piring secara terpisah.

Teman melahap gado-gado di tempat ini adalah es pankuk yang segar. Namanya diambil dari kata pancake, yaitu camilan basah dipotong-potong kecil yang terbuat dari tepung terigu, telur, dan garam. Pankuk ini dibubuhkan ke dalam tiga sendok es krim atau es puter bersama roti dan agar-agar. “Rasa es puternya bermacam-macam menyesuaikan musim. Ada rasa coklat, kepala, durian, dan alpukat,” katanya.

Penggemar gado-gado dan es pankuk yang buka pukul 10.00 sampai 17.00 ini tak hanya dari Semarang saja. Terkadang pembeli dari luar kota, bahkan luar Jawa sengaja mampir untuk menikmatinya. “Ada yang dari Kalimantan, begitu turun dari airport langsung makan di sini,” ujar Lilik. Selain di Jalan Tanjung, gado-gado Pak Yono membuka cabang di depan BCA Jalan Pemuda, depan Gramedia Pandanaran, dan samping DP Mal.

Cikal bakal gado-gado Pak Yono sendiri berasal menu es pankuk yang dijajakan Suyitno, kakek Lilik sejak 59 tahun lalu. Suyitno saat itu berkeliling menjajakan es memakai gerobak di sekitar Pecinan, Jurnatan, Mataram, dan Karanganyar. Namun es pankuk hanya disukai di musim kemarau. Saat musim hujan, es yang dijajakan tidak laku. Suyitno pun putar otak agar dapurnya tetap mengebul.

Ditawarkannya gado-gado sebagai pendamping menyantap es pankuk. Saat Suyitno beranjak tua, Yono yang menjadi anaknya memilih keluar dari pekerjaannya sebagai sopir dan meneruskan usaha kuliner ayahnya. Setelah punya banyak langganan, dia pun berjualan menetap di Jl Tanjung dan membuka tiga cabang lainnya.

Advertisements

One Response

  1. ueeenak banget mestinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: