Sukawi: Hubungan Dosen dengan Mahasiswa Adalah Partner dan Saling Membutuhkan

Dosen kelahiran 20 Oktober ini, bisa jadi merupakan salah satu dosen paling populer di Semarang. Tulisannya hampir setiap minggu muncul di berbagai media cetak di Semarang. Aktifitas penyuka makanan pedas ini juga tidak sedikit, selain aktif di komunitas Loenpia.net, Sekretaris Program Diploma D3 Desain Arsitektur UNDIP ini juga sering menjadi pembicara ataupun juri lomba yang berkait dengan keahliannya. Bagaimana ide-ide dosen yang menjadikan Chinese Wisdom karya Leman sebagai buku favoritnya ini, berikut ini wawancara. 

Anda sering menulis di media massa terutama soal penataan Kota Semarang, menurut Anda apa yang harus menjadi prioritas perbaikan Semarang ke depannya, terutama untuk menarik wisatawan datang ke sini?
Mengenai Penataan kota Semarang, banyak sekali pekerjaan oleh pemerintah kota yang harus dilakukan. Karena semua terkait satu sama lainnya. Contoh sederhana adalah penanganan Rob yang saat ini mulai merambah ke berbagai daerah Semarang. Saya melihat area cakupan daerah yang diterjang rob semakin meluas saja. Walaupun pemkot sudah mulai belajar ke Belanda sampai mendatangkan ahli Belanda, toh hasilnya belum kelihatan. Akar permaslahan rob bisa bermacam macam, seperti: Terjadinya penurunan tanah yang pelan namun pasti terjadi di Semarang bawah, pemanasan global dengan naiknya permukaan air laut, dan pengambilan air tanah yang membabi buta dengan munculnya bangunan komersial yang berdiri dengan angkuhnya mulai dari hotel maupun mall di Semarang.

Dan masih banyak lagi karena dengan adanya rob, maka dampaknya akan sangat besar mulai dari terganggunya infrastruktur dengan kerusakan jalan, bangunan, sektor ekonomi maupun wisata. Mengapa wisata terkait dengan rob, karena potensi wisata Semarang banyak yang terletak di Semarang bawah. Seperti Kawasan Kota Lama dan sekitarnnya. Stasiun Tawang selalu berkejaran dengan rob untuk meninggikan lantai bangunan. Berita terakhir, lahan parkir bahkan ditinggikan sehingga menuai proses banyak pihak karena berdampak pada nilai estetis fadase bangunan stasiun tawang yang nantinya akan kelihatan “ndeprok” dan tidak megah lagi.

Masjid Layur yang terletak di kampung Melayu juga selalu tergenang rob. Masjid  tertua di Semarang ini mempunyai keunikan tersendiri dengan menaranya yang indah selalu menjadi tempat studi mahasiswa Arsitektur, Sejarah maupun arkeologi. Belum lagi bangunan bangunan yang berada di dalam kota lama. Kondisinya cukup memprihatinkan karena tidak mendapat sentuhan mulai dari pemilik, maupun pemerintah.

Menurut saya, saat ini rob yang harus ditaklukkan dahulu. Nah untuk menarik wisatawan, perbaikan untuk Kota Semarang selanjutnya adalah mulai menarik investor untuk menangani bangunan bangunan yang terlantar di Semarang untuk dihidupkan kembali. Ini potensi untuk menarik wisatawan. Beberapa bangunan yang berhasil misalnya Lawang Sewu yang sekarang kelihatan cantik, kemudian eks Pengadilan Negeri di kota lama yang menjadi rumah makan Cianjur. Pemerintah harus memberi kemudahan dalam perijinan.

Berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah membuat paket paket wisata yang mencoba ditawarkan dengan promosi yang tak kenal lelah. Semarang perlu belajar banyak dari Kuala Lumpur dan Singapura dalam menjual wisatanya. Jadi intinya saat ini yang perlu ditangani adalah hal hal mendasar dulu yang nantinya berdampak bagi wisatawan untuk datang.Jadi memang butuh keseriusan dalam mengemas event yang dapat dijual.

Sebagai seorang dosen arsitektur, apa penilaian Anda mengenai bangunan peninggalan Belanda dan bangunan baru Semarang?
Pertama, kita harus belajar banyak dari bangunan kolonial peninggalan Belanda, mengapa? Karena kualitasnya yang memang didesain dengan hebat. Belanda membangun Bangunan tidak begitu saja menerapkan desain dari negeri asalnya Eropa, tetapi sudah mengalami akulturasi dan mencoba untuk disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Misalnya di Semarang, ada Lawang Sewu yang menjadi tetenger kawasan Tugu Muda. Bangunan ini ditinjau dari segi Fisika bangunan, sangat adaptif terhadap kondisi iklim Semarang dengan bukaan pintu dan jendela yang lebar untuk ventilasi alami. Kemudian adanya selasar yang memanjang di sepanjang bangunan yang berfungsi untuk pembanyangan sehingga panas matahari tidak masuk ke dalam ruangan, kemudian ketebalan dinding yang mencapai satu bata (30 cm) yang berhubungan dengan waktu (time Lag) panas menjalar masuk kedalam ruang, sehingga walaupun tanpa menggunakan AC, ruangan di lawang sewu akan nyaman.

Kedua, Dari segi konstruksinya, memang diperhitungkan dengan sangat cermat. Bagaimana Thomas Karsten yang mendesain Pasar Johar dengan struktur atap plat slab dengan kolomcendawan yang merupakan stuktur paling canggih pada saat itu. Sebelum membangun pasar Johar yang lebih besar, terlebih dahulu Thomas Karsten membuat Pasar Jatingaleh dengan konstruksi sama yang lebih kecil. Ini merupakan studi yang dilakukan oleh arsitek Belanda.

Ketiga, Bangunan arsitektur harus berakar pada tempat dimana dia didirikan. Kalau bangunan itu dibangun di Jawa, bangunan tersebut juga harus kelihatan jawanya. Coba ditengok bangunan Sobokartti yang merupakan gedung pertunjukan denggan konsep jawa yang di desain Thomas Karsten dan Gedung KAI di Jalan Thamrin yang menggunakan pola tata ruang Jawa.

Coba bandingkan dengan bangunan sekarang. Banyak bangunan yang di desain dengan bentuk seperti di luar negeri maupun dari majalah tanpa memeperhatikan aspek kontekstual. Sekarang bangunan booming dengan bentuk minimalis. Yang mempunyai tritisan yang kecil, bukaan yang kecil dan pemakaian material kaca. Dari aspek fisika bangunan jelas tidak masuk, akibatnya hidup kita tergantung dari pengkondisian udara (AC) yang berdampak pada meningkatnya pemakaian listrik. Makanya jangan heran jika 10 tahun mendatang kita akan mengalami krisik listrik karena sekarang hampir tiap rumah tangga dan perkantoran menggunakan listrik yang berlebihan terutama konsumsi untuk kenyamanan dalam ruangan.

Dari segi tampilan bangunan/ fasade, kita sering hanya mencomot gaya gaya yang berkembang di luar negeri. Cobalah ada melihat pameran perumahan maka yang muncul adalah cluster cluster dengan gaya arsitektur mediterania, victorian, clasik dan gaya gaya dari eropa yang diterapkan mentah-mentah. Sehingga kita yang hidup di jawa telah kehilangan Jawanya. Makanya sempat ada kelakar, jika kita ditutup matanya dan dibuka matanya saat mengunjungi daerah lain kita kebingungan berada di kota mana.Dari beberapa kota yang sempat saya kunjungi, kota Padang adalah kota yang masih konsisten dengan jati dirinya. Lalu bagaimana dengan Semarang?

Selain tugas rutin sebagai pengajar Arsitektur Undip, kesibukan Anda sekarang apa saja?
Selain ngajar di S1 Arsitektur, kebetulan saat ini dipercaya sebagai sekretaris program Diploma D3 Desain Arsitektur UNDIP. Selain itu sebagai free land dalam mendesain dan kesibukan untuk nulis di media. Tetapi yang saya utamakan adalah kegiatan di kampus. Karena saya memegang janji saya saat diangkat dulu, yaitu sebagai dosen. Yang tugas utamanya adalah Mengajar, meneliti dan pengabdian masyarakat. Untuk menulis ini saya lakukan karena masih sedikit para dosen yang membagikan ilmunya bagi masyarakat dan memberikan masukan bagi pemerintah kota. Jangan sampai perguruan tinggi hanya sebagai menara gading saja.

Tentang karir Anda, bisa diceritakan bagaimana awalnya Anda bisa menjadi dosen di Jurusan Arsitektur Undip?
Saya menjadi dosen ini tidak sengaja, bukan cita cita saya. Awalnya ketika lulus S1 sarjana Arsitektur, terjadi krisis moneter. Sekitar 5 bulan nganggur tidak ada kerjaan. Sudah ada puluhan lamaran yang dikirim tetapi tidak ada satupun yang dipanggil untuk wawancara maupun test. Tidak segaja diberitahu teman, ada lowongan beasiswa untuk melanjutkan sekolah dengan biaya dari Direktorat Pendidikan Tinggi. Iseng iseng masukin lamaran, dengan berbagai serangkaian test dan wawancara yang sekaligus sebagai pengalaman pertama, akhirnya diterima sebagai penerima Karya Siswa Pasca Sarjana Dikti yang dalam perjanjiannya setelah lulus bersedia ditempatkan sebagai tenaga pengajar (dosen).

Menurut Anda bagaimana idealnya seorang dosen?
Dosen yang ideal adalah proporsional dalam bekerja. Tugas utama dosen adalah tri darma perguruan tinggi yang mencakup pendidikan (sekolah sampai jenjang S3 dan mengajar, penelitian dan pengabdian masyarakat. Di sisi lain dosen diharapkan selalu update ilmunya dengan belajar maupun praktek langsung di lapangan. Karena mahasiswa yang diajarnya juga nantinya akan praktek di lapangan. Jadi semuanya harus dikerjakan secara profesional. Maka ada istilah dosen yang biasa di luar, dosen yang mempunyai pekerjaan banyak di luar job utamanya sebagai dosen, sehingga tanggung jawabnya dilupakan.

Dosen juga harus mengikuti perkembangan jaman, makanya sekarang internet sudah masuk kampus dan mahasiswa juga difasilitasi dengan hotspot. Dengan fasilitas itu, dosen bisa lebih maju lagi cakrawalanya. Jangan ilmu yang di dapatkan saat mahasiwa dulu diterapkan pada mahasiswa sekarang. Dosen harus mengenal email, blog, maupun facebook. Karena kadang kita akan tahu banyak karakter dari mahasiswa itu dari obrolan di facebook misalnya.

Bagaimana pandangan Anda mengenai mahasiswa sekarang ini? Dan menurut Anda mahasiswa yang ideal itu seperti apa?
Mahasiswa sekarang canggih canggih.dan pinter pinter, makanya enak jadi dosen sekarang, tidak harus memberi kuliah dari A sampai Z, tetapi cukup diberi stimulus dan mahasiwa dapat mencari lagi yang lebih lengkap di internet. Mahasiswa sekarang juga kritis-kritis kok.

Mahasiswa yang ideal menurut saya, selalu tidak puas dengan apa yang hanya diberikan oleh dosennya. Makanya saya sering memberi tugas mahasiwa untuk mencari materi yang relevan di internet. Di satu sisi mahasiswanya menjadi lebih aktif, disisi lain dosennya juga akan mendapat masukan yang berharga. Kemudian mahasiswa harus aktif dalam diskusi diskusi.

Untuk mahasiswa Arsitektur, rajin untuk mengikuti lomba lomba mulai dari penelitian, desain maupun menulis esai arsitektur. Ini merupakan salah satu cara untuk memberi nilai tambah buat mahasiswanya sendiri.

Hubungan yang ideal antara dosen dan mahasiswa, menurut Anda bagaimana?
Hubungan dosen dengan mahasiswa adalah partner dan saling membutuhkan. Mahasiswa harus dapat menempatkan posisinya dengan banyak banyak berdiskusi dengan dosennya. Jaman saya mahasiswa, dosen bagaikan dewa, kalau kita salah harus mencari kesalahan kita sendiri. Beda dengan sekarang, kalau mahasiswa salah harus diberitahu dimana letak kesalahannya.  Karena sekarang jumlah mahasiswa banyak, berdasarkan pengalaman saya, maka yang diingat dosen adalah mahasiswa yang “paling”. Paling pinter, paling bodoh, paling cantik, paling cakep,paling jelek, paling aneh. Jadi kalo kategori sedang sedang saja malah tidak diingat dosen dan temen kuliahnya.

Apa keinginan terbesar yang ingin Anda wujudkan ke depannya?
Kalau keinginan sih banyak, mulai dari keinginan melanjutkan sekolah lagi, keinginan untuk menerbitkan buku dan keinginan untuk mendapatkan penelitian dengan dana yang besar. Itu keinginan dalam waktu dekat. Untuk keinginan terbesar belum terpikirkan.

3 Responses

  1. Salam kenal buat Pak Sukawi ya… Pak ada ga program buat kesetaraan di UNDIP untuk lulus menjadi arsitek lansekap. Soalnya saya lulusan arsitektur.

  2. info yang bagus…trim’s

  3. Infonya banyak dibagi di media massa. Terimakasih Pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: