Arifathul Uliana Duta Wisata Jateng 2008

Pukul dua siang itu, kawasan Pleburan tampak panas oleh terik matahari. Di salah satu rumah, Simpang5 sudah membuat janji dengan Arifatul Uliana untuk wawancara. Tampak senyum segar menghias wajah Uli (panggilan akrab Arifatul Uliana) begitu Simpang5 memasuki rumah itu. Gaya bicara Uli mengalir dan teratur, tampak jika dia memang seorang yang tidak hanya mengandalkan kecantikan tapi juga kecerdasan, untuk menjadi Duta Wisata Jawa Tengah (Jateng).

Dari mulutnya mengalir cerita bagaimana awal dia bisa menjadi Duta Wisata Jateng 2008. Awalnya dia hanya iseng untuk mengikuti pemilihan di tingkat kota. Karena dia berasal dari Solo, maka dia ikut pemilihan di kota tersebut. Terpilih mewakili Solo, Uli akhirnya juga terpilih untuk tingkat Jateng. November nanti, Mahasiswi Semester 4 Fakultas Hukum Undip ini akan mewakili Jateng di tingkat nasional.

“Saya berharap bisa terpilih di tingkat nasional. Karena itu saya terus mempersiapkan diri, terutama persiapan mental. Selain itu, tentunya pengetahuan saya tentang tempat-tempat wisata di Indonesia dan kemampuan Bahasa Inggris juga terus saya tingkatkan,” jelas gadis yang berulang tahun pada tanggal 30 Maret ini.

Tentu berbagai kegiatan Ulie sebagai Duta Wisata Jateng, akan terus meningkatkan pengetahuannya akan pariwista. Berbagai pameran wisata dan kunjungan ke kota-kota lain juga akan meningkatkan jam terbang dalam kepariwisataan, ini tentu akan baik buat meningkatkan mental untuk menghadapi wakil-wakil dari provinsi lain.

Uli sadar betul bahwa pengetahuan wisata dan bahasa ini sangat penting untuk mengemban tugas sebagai duta wisata. Itu pengalaman yang diambil selama menjadi Duta Wisata Jateng. “Tugas utama duta wisata adalah mempromosikan daerah, supaya orang mau berkunjung. Dalam berbagai pameran dan kunjungan, saya sebisa mungkin menceritakan hal-hal menarik yang ada di Jawa Tengah,” papar cewek yang lahir di Demak ini.

Kuliner masih menjadi daya tarik utama wisata saat ini, karena itu tidak heran jika Uli hafal betul dengan makanan khas Jateng. Seperti Loenpia dan Bandeng Presto untuk makanan khas Semarang atau Gudeg Ceker yang khas Solo. “Jika di Surabaya ada tempat makan yang khas karena buka pukul 01.00 dini hari, di Solo pun ada Gudug Ceker,” jelas Uli.

Untuk meningkatkan pariwisata di Jateng, Uli mengajak agar setiap warga sadar wisata. Dalam arti penduduk yang berada di kawasan wisata siap untuk menerima kunjungan wisatawan, baik secara bahasa maupun ketrampilan. “Saya liat untuk kawasan Borobudur sadar wisata perlu untuk mendapat perhatian besar, apalagi Borobudur melalui sebuah polling tidak masuk lagi dalam tujuh keajaiban dunia. Tentu pihak-pihak terkait bisa bekerja sama dengan penduduk sekitar, untuk meningkatkan ketrampilan,” tandasnya.

Cewek yang bercita-cita menjadi pengusaha ini juga berharap, tempat wisata di Jateng mendapat pengelolaan yang serius. Seperti dalam hal kebersihan, keamanan, dan kenyamanan tempat wisata. Tidak ketinggalan juga promosi perlu untuk terus ditingkatkan. “Jika pariwisata berkembang tentu perekonomian juga akan berjalan. Ekonomi di sekitar tempat wisata tentu akan berjalan untuk memenuhi kebutuhan pelancong yang datang,” pungkas penyuka semua masakan pedas ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: