Soto Ayam Pak Wen Nikmat dengan Kremesan dan Ayam Jago

Soto ayam Pak Wen di Jalan Taman Pekunden Timur Semarang bisa jadi salah satu soto yang melegenda di Semarang. Almarhum Wen sudah berjualan di kota ini sejak tahun 1952 dengan cara berkeliling di sekitar daerah Pekunden dan Batan. Pria perantauan asal Klaten tersebut baru berjualan menetap di daerah Pekunden sekitar tahun 1959. Mulai mangkal di belakang bioskop Manggala hingga di Jalan Taman pekunden Timur seperti sekarang.

Setelah Wen meninggal, warung soto tersebut diserahkan pada anaknya, Mochlan. Kini, soto tersebut dikelola cucu-cucu Wen. Wahyuningrum, salah seorang cucu Wen mengatakan selain di Pekunden, cucu Wen lainnya juga membuka warung di daerah Pondok Beringin Asri. Beberapa mantan karyawan Wen yang sudah piawai meracik soto juga membuka warung sendiri seperti soto Pak Bagong di daerah Mugas dan Soto Pak Wito di belakang gedung DPRD Jateng.

“Resep yang saya pakai saat ini masih asli karena yang masak ibu saya langsung,” kata Wahyuningrum yang biasa dipanggil Ning.. Yang unik dari soto ini adalah adanya kremesan dari tepung yang dicampurkan ke dalam kuah soto. Soto ini juga tidak memakai taoge seperti khasnya soto di Semarang. “Kami memakai tomat dan irisan kol, seperti soto dari Klaten pada umumnya,” kata Ning.

Yang juga khas, soto Pak Wen hanya menggunakan ayam jago untuk suwiran ayam dan satenya. Daging ayam jago dianggap lebih keset dan tak terlalu banyak lemaknya. Ning mengaku menghindari sotonya terlalu berminyak karena bumbu soto sendiri sudah digongso menggunakan minyak goreng. “Ini atas saran pelanggan juga. Mereka banyak yang diet jadi tidak mau makanan yang terlalu berlemak,” kata dia.

Sebagai pasangan makan soto, ada berbagai gorengan seperti tempe, dan gembus. Bedanya, warung ini membubuhkan tepung sehingga gorengannya menjadi lebih crispy. “Kalau ini kreasi dari cucu-cucu Pak Wen sendiri. Saya coba, ternyata banyak yang suka kalau pakai tepung,” ungkapnya.

Walaupun pembeli soto yang buka dari jam 7 pagi sampai 3 sore ini cukup banyak, Ning mengaku tak menggunakan bumbu rahasia pada masakannya. “Bumbunya sama seperti soto-soto lainnya. Hanya mungkin beda tangan yang mengolah, rasanya pun berbeda,” kata wanita yang bisa menjual 250-500 mangkok soto setiap harinya ini.

One Response

  1. ada cabangnya di jogja ga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: