Dekorasi Wedding Tradisional, Kini Ada Gaya Ekstrem dan Menabrak Pakem

Dekorasi merupakan salah satu elemen dari sebuah pesta pernikahan. Dekor yang menawan mampu menggambarkan suasana wedding yang glamor, cantik, maupun simpel. Seiring perjalanan waktu, gaya dekorasi tradisional pun mengalami perkembangan yang luar biasa. Tak hanya bentuk klasik yang masih berpedoman dengan pakem-pakem Jawa, kini dekorasi pun dapat menjadi sangat kreatif dengan gaya ekstrem dan asimetris.

Menurut Irwan Riyanto S, pemilik Kusuma Asri Wedding Decoration-Wedding Planner-Design Art, dekorasi sekarang sudah sangat berbeda dengan zaman dulu. Dahulu, ekspresi pelaminan tradisional masih terikat dengan pakem yang ketat. Seperti dominasi warna emas yang menjadi tren pada tahun 1997-1998. Di tahun 2000 an, warna perak sebagai simbol masa milenium menggantikan dominasi emas. “Setelah jenuh dengan perak, gebyok menjadi piranti yang harus ada dalam pelaminan,” jelas pria yang kerap dipangil Anto ini.

Kini, gaya dekor kembali ke arah natural dengan banyak mengekspose ukiran Jawa pada kayu. “Gebyok pun kini tak hanya dari Kudus, gebyok Jepara, Madura, maupun pesisiran juga dipakai,” ujar pria yang punya kantor di daerah Cokrokembang Semarang tersebut.

Gaya dekorasi pun kini lebih beranekaragam, ada modifikasi Jawa modern, Jawa klasik, dan Jawa kolonial. Semua disesuaikan dengan keinginan mempelai dan si empunya hajat. “Gayanya sekarang lebih variatif. Namun tanpa meninggalkan unsur Jawa sebagai basic dekorasi tradisional,” jelas Anto yang punya bisnis dekor sejak 8 tahun lalu ini.

Anto melanjutkan, pembuat dekor maupun klien bahkan berani membuat dekorasi pelaminan yang ektrem tanpa harus terikat pakem-pakem tadi. Hal tersebut diwujudkan dengan dekorasi yang asimetris, menggunakan warna-warna kontras, dan menggabungkan gaya dekorasi dari beberapa daerah sekaligus. “Meski ekstrem, sentuhan Jawa tetap dimunculkan dengan penggunaan mebelair. Saya pernah membuat dekor bergaya campuran Jawa, Bali, dan Cina,” kata dia.

Kesan natural yang sedang tren juga diwujudkan dengan penggunaan bunga dan daun. Anto mengatakan, bunga dan daun yang dipakai sekarang makin beraneka ragam. Sebab, ini banyak juga bunga dan daun impor dengan beraneka macam bentuk yang indah. “Konsumen sekarang sudah biasa membedakan rangkaian bunga biasa, sedang, dan istimewa,” ungkapnya.

Meski begitu, menurut Anto untuk menghadapi pasar Semarang, pengusaha dekor tidak bisa terlalu idealis. Sebab, di Semarang, pasar terbesar justru berasal dari kalangan menengah ke bawah. “Kalau dekorasinya muluk-muluk, di sini justru malah tidak laku,” paparnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: