HM Untung Suwardhi: Hargai Nilai Kemerdekaan

nullKemerdekaan Indonesia punya arti istimewa bagi HM Untung Suwardhi. Sebab sekitar 60 tahun yang lalu, mantan Polisi Tentara (sekarang Polisi Militer) ini turut berjuang langsung mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Pria yang kini hampir berusia 80 tahun ini merupakan salah satu veteran yang menjadi saksi hidup perang pasca kemerdekaan.

Meniti karir militer dari menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR), Suwardhi yang kini tinggal di Jalan Teuku Umar 52 Semarang ini ikut merasakan pahit manis berjuang melawan Belanda. “Dulu pilihannya hanya 2. Saya membunuh Belanda atau dibunuh oleh Belanda,” katanya dengan suara yang masih lantang.

Sejak menjadi Polisi Tentara (PT) dengan pangkat Kopral, kakek 27 cucu dan 2 cicit ini telah mengikuti berbagai misi di garis depan musuh. Diantaranya menumpas Belanda yang datang ke Jateng dengan membonceng tentara NICA tahun 1946-1947, bergerilya bersama pasukan Armada IV Angkatan Laut di Pekalongan, menumpas pemberontakan DI/TII di Tegal dan Brebes, melawan pemberontakan PKI di Madiun dan Parakan, dan menjadi pengawal Presiden Soekarno.

Punggungnya bahkan pernah terkena tembak saat menyerang pasukan Belanda yang menduduki pabrik teh Jolotigo Pekalongan. Saat itu Suwardhi yang menjabat komandan regu, merasakan betul kesetiaan anak buah terhadapnya. “Waktu itu saya meminta ditinggal dan senjata saya berikan. Tapi anak buah tak mau dan memilih menggendong saya naik turun tebing,” cerita Suwardhi yang terakhir berangkat Letkol.

Meski begitu, dia merasa apa yang dilakukannya bukanlah apa-apa. Yang terpenting, dia mampu menyumbangkan sesuatu bagi terwujudnya kemerdekaan Indonesia yang hingga saat ini masih dapat dirayakan. Ungkapan yang masih dipegangnya saat ini adalah “Ora ketang sak klungsu, neng aku melu udhu”. Ya, baginya ikut berperan dalam mengusir penjajah dan terwujudnya Negara kesatuan Republik Indonesia amat membanggakan.

Ia mengatakan cita-cita kemerdekaan saat ini belum semuanya bias tercapai. “Ada yang sudah tapi banyak yang belum. Masih harus ditekadi lagi,” kata dia. Sebagai mantan pejuang dia berpesan kepada generasi muda untuk lebih menghargai arti kemerdekaan. Sebab kemerdekaan yang didapat saat ini, dulu benar-benar dibangun dari darah, keringat, dan air mata para pejuang. “Para pemuda harus bisa meneladani sifat-sifat Panglima Besar Soedirman yang rela berkorban demi bangsa dan Negara,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: