Rumah Ekonomis yang Estetis

Setiap orang senantiasa mendambakan sebuah rumah yang luas, indah (estetis), nyaman dan aman. Namun kendala biaya sering kali menghadang dalam mewujudkan impian tersebut. Untuk itu setiap orang berkeinginan untuk membangun rumah yang indah sesuai selera dengan biaya yang ekonomis. Sehingga muncul istilah rumah murah, rumah sederhana, maupun rumah ekonomis, yang semuanya dinilai dari besarnya biaya dalam mewujudkan rumah tersebut.

Esensi rumah murah (ekonomis) selama ini selalu dikonotasikan dengan rumah sederhana yang tidak mempertimbangkan estetika, tidak layak, bahkan cenderung kumuh. Paradigma ini tidak selamanya salah karena proses pembangunan yang terwujud selama ini telah menghasilkan produk yang demikian. Baik rumah produk Perumnas maupun rumah contoh hasil penelitian dari berbagai pusat penelitian, merupakan salah satu contoh pengejawantahan atas paradigma ini. Tidak bisa dimungkiri bahwa ketika proses mengonstruksi bangunan rumah dengan biaya yang pas-pasan, segala elemen pembangunan ditekan seefisien mungkin: mulai dari luas bangunan, bahan konstruksi, sampai dengan tenaga kerjanya.

Efisiensi memang mutlak diperlukan, namun sering kali nilai efisiensi belum dikaitkan dengan nilai optimasi. Dalam hal ini rancangan yang komprehensif dalam mengoptimalkan potensi unsur pembangunan rumah tinggal perlu selalu dikaji secara intensif.

Untuk mewujudkan sebuah rumah yang ekonomis perlu diperhatikan beberapa hal di antaranya: Pertama adalah dalam penentuan bahan bangunan yang digunakan. Pemilihan bahan lokal yang mudah diperoleh dan harga terjangkau merupakan alternatif yang cukup signifikan. Dalam hal ini, misalnya, bahan bambu, balok kayu, anyaman bambu, dan papan kayu maupun material batu dari sungai yang sangat mudah diperoleh di sekitar kita sehingga harganya pun lebih murah jika mendatangkan dari luar daerah. Jadi utamakan material lokal.

Kriteria kedua adalah kekokohan yang dalam hal ini adalah struktur dari bangunan tersebut. Biasanya struktur bangunan akan menghabiskan biaya sekitar 30-40% dari total biaya pembangunan. Struktur bangunan merupakan hal pokok yang tidak boleh dikurangi dalam proses pembangunan. Walaupun dikerjakan dengan teknologi sederhana konstruksi bangunan harus benar dan kokoh.

Kriteria ketiga untuk mendapatkan rumah ekonomis adalah sistem perawatan yang tidak rumit. Aspek sustainabilitas merupakan dasar pertimbangan untuk mendapatkan sistem perawatan yang murah. Kesederhanaan permukaan bidang, bentuk, dan struktur merupakan sistem perawatan yang sustain. Ketahanan terhadap iklim tropis dengan kelembaban tinggi merupakan pertimbangan utama. Untuk itu hindari bentuk ornamentasi yang hanya menampilkan segi estetis tetapi tidak punya fungsi lain. Seperti kolom, tidak perlu menggunakan ornamen di kepala maupun kaki kolom. Untuk lantai bisa menggunakan plester yang dikombinasi dengan batu alam atau pecahan keramik yang ditata menjadi mozaik sehingga selain estetis juga lebih murah. Untuk dinding bisa menggunakan bata ekspos yang lebih estetis atau dengan plester yang rapi tanpa di cat. Pengecatan hanya dilakukan sebagai aksen pada kusen pintu atau jendela saja.

Kriteria keempat atas harapan rumah yang ekonomis adalah efisiensi terhadap pemanfaatan ruang. Langkah meminimalkan ruang secara horizontal merupakan upaya efisiensi dan optimalisasi fungsi ruang yang perlu dicatat. Ruang yang diberi penyekat berupa dinding hanya ruang tidur dan KM/WC sedangkan lainnya dibiarkan tanpa penyekat yang permanen. Penyekat bisa berupa almari pajangan yang suatu saat bisa dipindah. Ruang keluarga, ruang makan dan dapur dapat jadi satu, sedangkan antara ruang tamu dengan ruang keluarga dapat disekat dengan almari pajangan.

Finding lost space tampaknya bisa diterapkan dalam skala rumah yang ekonomis sekali pun. Ruang atap yang pada umumnya terbuang tanpa fungsi berarti dan cenderung disembunyikan, sebenarnya merupakan temuan ruang bertingkat yang bisa dimanfaatkan dengan nilai artistik dan fungsi yang memadai (tentunya dengan memerhatikan faktor kenyamanan dan keamanan). Bentuk miring, sebagai ungkapan atap tropis, merupakan ekspresi bentuk yang tanpa disengaja memberikan nilai dekoratif dalam sebuah ruang. Dalam hal ini elaborasi bentuk tampaknya perlu menjadi pertimbangan dalam mewujudkan nilai estetis pada sebuah bangunan.

Akhirnya, penampilan rumah yang selama ini masih terpaku pada bentuk standar, yang lazim dipakai oleh masyarakat awam, perlu digagas ulang. Pencarian bentuk-bentuk penampilan rumah yang estetis namun ekonomis, harus dilakukan. Tidak bisa dimungkiri, ketika rumah dibangun dengan bermain bentuk, maka risiko ekonomi tidak bisa dihindari, atas biaya ekstra terhadap eksperimentasi bentuk dalam penampilan, baik interior maupun eksterior. (Sukawi – Dosen Arsitektur Undip)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: