Gemblong Bakar Aneka Rasa

gemblong-bakar-2.jpgGemblong, makanan tradisional yang terbuat dari ketan dan kelapa lazim dinikmati langsung. Ingin mencoba kreasi lain dari gemblong? Mengapa tak datang ke warung Gemblong Bakar Aneka Rasa di Jalan MT Haryono No. 439 Semarang, tepat di depan Yamaha Mataram Sakti. Sesuai dengan namanya, menu utama di warung kaki lima tersebut adalah Gemblong Bakar.

Tak sekedar dibakar, Hartono dan Lili, suami istri pengelola warung tersebut mengkreasikannya dengan berbagai rasa. Ada rasa srundeng, bubuk kedelai, abon, coklat, dan keju. Penganan tradisional tersebut pun bisa dinikmati dengan citarasa yang beragam. Padahal menu tersebut disajikan secara tak sengaja.

Hartono bercerita sekitar tahun 1997, dia membuka warung garang asem ayam di tempat yang sama. Namun usahanya bangkrut karena isu flu burung.

Empat bulan kemudian, dia banting stir dengan menjual gemblong bakar. Ia mengaku mendapat inspirasi dari jadah tempe yang ditawarkan Bu Carik di daerah Kaliurang Jogjakarta. Disana, makanan ini dinikmati bersama tempe atau tahu bacem dengan cabe rawit. “Di daerah panas seperti Semarang tak cocok dinikmati dengan tempe, tahu, dan cabe. Makanya saya mengkreasikannya dengan dibakar,” ungkapnya.

Soal berbagai rasa gemblong yang dibuatnya dia mengaku semuanya berawal dari coba-coba. “Pertama saya iseng buat, dirasain kok enak, lalu ditawarkan sebagai menu. Kebetulan para pembeli suka,” katanya. Harga yang ditawarkan juga tergolong murah yaitu hanya Rp 3000 per porsi. Dalam sehari warung yang buka pukul 19.00 – 24.00 ini mampu menujual 50-60 porsi gemblong.

Selain gemblong, dia juga menawarkan roti bakar dan pisang bakar. Sebagai pasangannya ada berbagai minuman sehat seperti jahe, temulawak, kunir asem, gula asam, dan akar alang-alang. Juga kacang ijo, wedang gemblong, serta kopi klotok. Semua disajikan dengan bahan-bahan alami yang diolah sendiri tanpa bahan pengawet. Lili mengatakan bahan seperti jahe, temulawak, dan kencur dimasak dan diblender hingga menjadi serbuk. Soal caranya dia tak mau mengungkapkan. “Ini rahasia,” ujarnya.

Serbuk tersebut lalu dicampur gula agar awet. Dengan begitu dia tinggal menyeduh serbuk menggunakan air dan menyajikannya kepada konsumen. Hartono mengaku pernah ditawari untuk mengemas dan memasarkan gemblongnya menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa ke luar kota, namun dia enggan karena harus mencampurkan bahan pengawet di dalamnya. “Gemblong saya paling lama tahan sehari, saya hanya mau menjual makanan dan minuman sehat,” kata dia.

2 Responses

  1. panganan wong kerek

  2. Bro/sis.. Klo mbikin blog jangan pake warna gelap..
    orang mau mbaca jadi sakit matanya..
    Klo warna backgroundny gelap.. Tulisannya pake warna terang..
    Thx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: