Tips Sukses Berbicara di Muka Umum

“Audiens membentuk persepsinya terhadap seorang pembicara melalui 3 aspek, antara lain: 7% verbal (pesan yang dikatakan), 38% vokal
(bagaimana pesan itu diutarakan), 55% visual (bagaimana penampilan pembicara ).” -Albert Mehrabian

Dalam beberapa tulisan sebelumnya, kita telah membahas berbagai teori mengenai berbicara di muka umum. Nah, sekarang kita akan menguraikan perihal teknik mengolah teori tersebut dalam praktik yang sebenarnya, mempresentasikan, atau mengekspresikan kemampuan yang telah kita latih dan berhadapan dengan kenyataan. Yang jelas, kesuksesan berbicara di muka umum seharusnya memenuhi prosentase kontribusi seperti dikatakan Albert Mehrabian di atas:

1.    Pemilihan kata
Walaupun hanya memiliki porsi sebesar 7%, namun kata-kata mampu memberi dampak yang kuat baik bagi pembicara maupun audiensnya. Pemilihan kata yang tepat bisa memotivasi, menggerakkan hati audiens, dan bahkan mampu mengubah dunia. Sebaliknya, pemilihan kata yang tidak tepat bisa berakibat fatal. Kata-kata yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan latar belakang audiens. Kata-kata yang terlalu rumit dengan menggunakan istilah-istilah yang tidak umum atau jargon-jargon  sebaiknya dihindari, kecuali kalau kita berbicara dalam satu lingkup yang sama.

Hal penting yang tidak bisa dilupakan adalah mempertimbangkan suasana yang akan kita hadirkan. Apakah suasananya formal, semiformal, atau santai? Tentu saja, kata dan kalimat yang akan kita gunakan pun berbeda, bergantung atas suasananya.

2. Suara
Suara adalah salah satu aspek penting bagi seorang pembicara. Suara bisa dijadikan untuk mengenali ciri khas seseorang. Bisa dikatakan, suara merupakan cerminan citra diri seseorang. Ada 6 aspek mengenai suara yang sebaiknya kita perhatikan. Yakni:  kecepatan, volume, titinada, pengucapan (artikulasi), dan jeda .

a)  Kecepatan berbicara yang normal adalah 110-130 kata per menit. Jadi, temukan kecepatan berbicara yang nyaman dengan mengasah kemampuan mengubah ubah kecepatan berbicara. Tujuan mengelola kecepatan berbicara ini adalah agar audiens memahami pentingnya arti suatu kata yang kita ucapkan.

b) Volume adalah kekerasan suara.Volume suara pada saat berbicara di muka umum sebaiknya disesuaikan dengan situasinya. Volume pun bisa diubah-ubah dari berbisik, lantang, hingga teriak yang bertujuan untuk mengekspresikan atau menggugah emosi audiens.

c) Titinada adalah tinggi rendah dan irama suara. Pengelolaan titinada secara benar akan menghindarkan kejenuhan audiens saat mendengarkan. Nada suara yang bervariasi tinggi, sedang, rendah akan membuat audiens menyimak dan memahami dengan benar terhadap materi yang kita sampaikan. Tinggi-rendah nada suara juga turut memengaruhi kesan formal atau rileks. Nada suara rendah lebih formal dan nada yang tinggi terdengar lebih bersemangat.

d) Artikulasi  diartikan  sebagai kemampuan melafalkan huruf-huruf  dari kata kata dengan benar. Seorang pembicara harus memiliki artikulasi yang  jelas dan benar, karena kesalahan artikulasi bisa menyebabkan arti yang berbeda dari kalimat yang disampaikan.

e) Jeda dalam berbicara bisa menjadi aspek penting untuk memperjelas atau menunjukkan bahwa kata atau kalimat yang kita ucapkan itu penting, sehingga audiens dapat mencerna materi yang kita sampaikan.

3.    Visual
Aspek yang memiliki prosentase terbesar yaitu 55% ini meliputi penampilan, ekspresi wajah, bahasa tubuh seperti cara berdiri, gerakan tangan dan mata. Di sini bisa kita artikan bahwa orang menangkap informasi bukan dari apa yang didengar melainkan dari apa yang mereka lihat terlebih dahulu. Penampilan sangat menentukan bagi audiens dalam memberikan respons kepada pembicara.

a) Penampilan seorang pembicara pada prinsipnya adalah rapi, sopan, serasi, nyaman, dan tidak berlebihan dari ujung rambut sampai ke ujung sepatu. Serasi di sini adalah sesuai dengan situasi, audiens dan tema acara maupun kepantasan untuk diri kita.

b) Bahasa tubuh kita mengekspresikan banyak hal tentang diri kita. Apakah kita orang yang ramah, sombong, penuh semangat, berwibawa, cerdas, hangatan, masa bodoh, penakut dan lain-lain bisa dilihat dari bahasa tubuh kita. Seorang pembicara seharusnya mampu mengendalikan bahasa tubuhnya dengan baik dan benar, natural dan ekspresif. Berdiri dan berjalanlah dengan tegak, dada tegap, bahu rileks, dan langkah yang mantap.

c) Saat berbicara di muka umum tentunya kita berbicara dengan sekelompok orang. Dan kewajiban kita adalah membuat setiap orang merasa diakui keberadaannya. Untuk itu, adakan kontak mata yang ramah dan merata kepada semua audiens yang ada saat berbicara sehingga mereka merasa kita menghargai keberadaannya.

d) Ekspresi wajah yang diharapkan oleh audiens dari seorang pembicara adalah wajah yang ramah, menyenangkan, dan tulus. Rahasia paling umum adalah dengan ”tersenyum”.  Awalilah pertemuan dengan tersenyum karena senyuman membantu kita lebih nyaman dan rileks serta membawa suasana hati yang menyenangkan bagi audiens.

Nah, kita sudah ketahui bersama bahwa penggunaan kata merupakan dasar komunikasi. Dalam kenyataannya, keberhasilan suatu pembicaraan tidak hanya ditentukan oleh penggunaan kata saja, tetapi juga penggunaan nonkata yang justru sangat berpengaruh. Sebab, ketika berbicara di muka umum, dengan audiens langsung berada di depan kita, bahasa tubuh dan semua aspek nonverbal sangat menunjang apa yang kita keluarkan dari mulut kita. Apalagi sebagai pembicara di muka umum, kita bukan seorang penyiar yang hanya dibutuhkan suaranya saja oleh pendengar. Oke? (Bonita.D Sampurno, Direktur ypi training centre &consultancy “up grade your personal image”)

Dan Kini Tiba Saatnya

“Audiens membentuk persepsinya terhadap seorang pembicara melalui 3 aspek, antara lain: 7% verbal (pesan yang dikatakan), 38% vokal

(bagaimana pesan itu diutarakan), 55% visual (bagaimana penampilan pembicara ).” -Albert Mehrabian

Dalam beberapa tulisan sebelumnya, kita telah membahas berbagai teori mengenai berbicara di muka umum. Nah, sekarang kita akan menguraikan perihal teknik mengolah teori tersebut dalam praktik yang sebenarnya, mempresentasikan, atau mengekspresikan kemampuan yang telah kita latih dan berhadapan dengan kenyataan. Yang jelas, kesuksesan berbicara di muka umum seharusnya memenuhi prosentase kontribusi seperti dikatakan Albert Mehrabian di atas:

  1. Pemilihan kata

Walaupun hanya memiliki porsi sebesar 7%, namun kata-kata mampu memberi dampak yang kuat baik bagi pembicara maupun audiensnya. Pemilihan kata yang tepat bisa memotivasi, menggerakkan hati audiens, dan bahkan mampu mengubah dunia. Sebaliknya, pemilihan kata yang tidak tepat bisa berakibat fatal. Kata-kata yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan latar belakang audiens. Kata-kata yang terlalu rumit dengan menggunakan istilah-istilah yang tidak umum atau jargon-jargon  sebaiknya dihindari, kecuali kalau kita berbicara dalam satu lingkup yang sama.

Hal penting yang tidak bisa dilupakan adalah mempertimbangkan suasana yang akan kita hadirkan. Apakah suasananya formal, semiformal, atau santai? Tentu saja, kata dan kalimat yang akan kita gunakan pun berbeda, bergantung atas suasananya.

2. Suara

Suara adalah salah satu aspek penting bagi seorang pembicara. Suara bisa dijadikan untuk mengenali ciri khas seseorang. Bisa dikatakan, suara merupakan cerminan citra diri seseorang. Ada 6 aspek mengenai suara yang sebaiknya kita perhatikan. Yakni:  kecepatan, volume, titinada, pengucapan (artikulasi), dan jeda .

a)  Kecepatan berbicara yang normal adalah 110-130 kata per menit. Jadi, temukan kecepatan berbicara yang nyaman dengan mengasah kemampuan mengubah ubah kecepatan berbicara. Tujuan mengelola kecepatan berbicara ini adalah agar audiens memahami pentingnya arti suatu kata yang kita ucapkan.

b) Volume adalah kekerasan suara.Volume suara pada saat berbicara di muka umum sebaiknya disesuaikan dengan situasinya. Volume pun bisa diubah-ubah dari berbisik, lantang, hingga teriak yang bertujuan untuk mengekspresikan atau menggugah emosi audiens.

c) Titinada adalah tinggi rendah dan irama suara. Pengelolaan titinada secara benar akan menghindarkan kejenuhan audiens saat mendengarkan. Nada suara yang bervariasi tinggi, sedang, rendah akan membuat audiens menyimak dan memahami dengan benar terhadap materi yang kita sampaikan. Tinggi-rendah nada suara juga turut memengaruhi kesan formal atau rileks. Nada suara rendah lebih formal dan nada yang tinggi terdengar lebih bersemangat.

d) Artikulasi  diartikan  sebagai kemampuan melafalkan huruf-huruf  dari kata kata dengan benar. Seorang pembicara harus memiliki artikulasi yang  jelas dan benar, karena kesalahan artikulasi bisa menyebabkan arti yang berbeda dari kalimat yang disampaikan.

e) Jeda dalam berbicara bisa menjadi aspek penting untuk memperjelas atau menunjukkan bahwa kata atau kalimat yang kita ucapkan itu penting, sehingga audiens dapat mencerna materi yang kita sampaikan.

  1. Visual

Aspek yang memiliki prosentase terbesar yaitu 55% ini meliputi penampilan, ekspresi wajah, bahasa tubuh seperti cara berdiri, gerakan tangan dan mata. Di sini bisa kita artikan bahwa orang menangkap informasi bukan dari apa yang didengar melainkan dari apa yang mereka lihat terlebih dahulu. Penampilan sangat menentukan bagi audiens dalam memberikan respons kepada pembicara.

a) Penampilan seorang pembicara pada prinsipnya adalah rapi, sopan, serasi, nyaman, dan tidak berlebihan dari ujung rambut sampai ke ujung sepatu. Serasi di sini adalah sesuai dengan situasi, audiens dan tema acara maupun kepantasan untuk diri kita.

b) Bahasa tubuh kita mengekspresikan banyak hal tentang diri kita. Apakah kita orang yang ramah, sombong, penuh semangat, berwibawa, cerdas, hangatan, masa bodoh, penakut dan lain-lain bisa dilihat dari bahasa tubuh kita. Seorang pembicara seharusnya mampu mengendalikan bahasa tubuhnya dengan baik dan benar, natural dan ekspresif. Berdiri dan berjalanlah dengan tegak, dada tegap, bahu rileks, dan langkah yang mantap.

c) Saat berbicara di muka umum tentunya kita berbicara dengan sekelompok orang. Dan kewajiban kita adalah membuat setiap orang merasa diakui keberadaannya. Untuk itu, adakan kontak mata yang ramah dan merata kepada semua audiens yang ada saat berbicara sehingga mereka merasa kita menghargai keberadaannya.

d) Ekspresi wajah yang diharapkan oleh audiens dari seorang pembicara adalah wajah yang ramah, menyenangkan, dan tulus. Rahasia paling umum adalah dengan ”tersenyum”.  Awalilah pertemuan dengan tersenyum karena senyuman membantu kita lebih nyaman dan rileks serta membawa suasana hati yang menyenangkan bagi audiens.

Nah, kita sudah ketahui bersama bahwa penggunaan kata merupakan dasar komunikasi. Dalam kenyataannya, keberhasilan suatu pembicaraan tidak hanya ditentukan oleh penggunaan kata saja, tetapi juga penggunaan nonkata yang justru sangat berpengaruh. Sebab, ketika berbicara di muka umum, dengan audiens langsung berada di depan kita, bahasa tubuh dan semua aspek nonverbal sangat menunjang apa yang kita keluarkan dari mulut kita. Apalagi sebagai pembicara di muka umum, kita bukan seorang penyiar yang hanya dibutuhkan suaranya saja oleh pendengar. Oke?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 35 other followers

%d bloggers like this: