Jalan bisnis seseorang memang berbeda-beda, namun orang yang memulai bisnis dari hobinya tentu lebih memiliki kecintaan yang kuat dalam usahanya. Arbanni Sepyana Atmasari atau biasa dipanggil Sari adalah salah seorang yang membuka usaha dari hobinya. Sebelum membuka butik busana muslim, Sari memang hobi mengoleksi busana, bahkan sesekali wanita yang sedang kuliah S1 ini juga hobi mendesain busana meski belum sampai untuk memproduksinya sendiri.
Ditambah lagi darah yang mengalir ditubuh Sari adalah juga darah wirausaha, ibunya pengusaha kelontong dan tambak. Didikan wirausaha inilah yang mengiringi perjalanan usia penggemar masakan Cina ini. “Orang tua saya tidak senang melihat anaknya bekerja untuk orang lain,” ungkap wanita yang masih berusia 30 tahun ini.
Butik sebenarnya bukanlah satu-satunya usaha yang dimiliki Sari. Selain butik, wanita yang tinggal di Semarang sejak SMA ini juga memiliki lembaga pendidikan bahasa dan play group. Pendirian lembaga pendidikan ini awalnya merupakan hasil berdiskusi Sari dan suaminya. Menurutnya, saat itu tahun 2003, krisis ekonomi masih terasa cukup kuat dampaknya. Karena itu, Sari berpikir untuk mendirikan usaha yang tidak banyak terpengaruh dampak krisis ekonomi. Maka dirintislah lembaga pendidikan bahasa, dan beberapa bulan kemudian disusul dengan pendirian play group.
“Sorenya untuk mengurus kursus sedang paginya untuk mengurus play group. Awalnya untuk play group kami juga membikin sendiri kurikulumnya, sedang untuk kursus, karena franchise, kami tinggal menjalankan saja. Alhamdulillah perkembangan dua lembaga pendidikan tersebut berjalan cukup bagus. Sekarang setidaknya lembaga pendidikan yang kami kelola sudah banyak dikenal masyarakat Semarang,” papar penyuka novel-novel pembangun jiwa ini.
Setelah kedua lembaga pendidikan yang dikelolanya berjalan, usaha butik pun mulai dirintisnya, tepatnya pada tahun 2006. Tempatnya masih satu gedung dengan lembaga pendidikan, yaitu di Jalan Pamularsih. Karena saat itu Sari sudah mengenakan busana muslim dalam kesehariannya, maka dia pun memilih untuk menekuni bisnis butik busana muslim. Sekarang usahanya berkembang cukup pesat, tidak hanya busana muslim yang tersedia di butiknya, tapi juga berbagai aksesoris juga perlengkapan haji. Bahkan mulai tahun ini, di butik tersebut juga melayani temporary tattoo henna mahendy, yaitu temporary tattoo asal India yang secara syariat dibolehkan.
“Ketika saya berbelanja busana ke Jakarta, saya bertemu dan berkenalan dengan seorang wanita asal India yang bernama Pretty. Dari dia saya banyak belajar cara membikin tattoo henna. Awalnya saya belum berani menawarkan tatto henna ini kepada konsumen, tapi saya terus berlatih menggambar, terutama menggambar tangan beberapa karyawan saya. Ternyata banyak yang bilang gambar saya cukup bagus dan mendorong saya untuk mulai menawarkan tattoo henna tersebut kepada konsumen,” jelas wanita yang juga gemar masakan India ini.
Tattoo asal India tersebut, sekarang malah menjadi salah satu daya tarik butik milik Sari, meski baru dikenalkan ke konsumen beberapa bulan yang lalu. Setidaknya dengan adanya tattoo henna tersebut progress report butik meningkat. “Kami sadar lokasi butik kami tidak berada di tengah kota. Padahal banyak sekali kompetitor dalam bisnis busana muslim ini. Karena itu, selain berpromosi, kami juga menawarkan hal-hal yang bisa menjadi ciri khas kami, seperti tattoo henna mahendy ataupun desain-desain busana yang berbeda dengan butik-butik lainnya,” tambahnya.
Filed under: Profil

Hobi tidak sekedar penyaluran hasrat untuk kepuasan semata, tapi juga datang membawa keuntungan secara finansial. Sukses ya mbak Sari!!!