Dibandingkan masakan sate lainnya, seperti sate kambing dan sate ayam, sate kuda memang sangat jarang ditemui di Semarang. Meski begitu, bukan berarti sate kuda tidak ada di Kota Loenpia ini. Di daerah Banyumanik, tepatnya di Jalan Sukun, ada salah satu warung yang menyediakan berbagai macam masakan dari kuda, salah satunya dan paling spesial adalah sate kuda.
Sate kuda sendiri lebih banyak dijumpai di daerah Jogjakarta. Banyak mereka yang memburu sate kuda dengan tujuan untuk kesehatan. Seperti untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu atau sekadar untuk penambah kekuatan. Tapi banyak pula yang memang benar-benar ingin menikmati sensasi rasa daging kuda.
“Beberapa pelanggan yang datang ke sini, mengungkapkan, jika mereka mengonsumsi sate kuda untuk mengobati penyaki tertentu. Seperti diabetes, asam urat, gatal-gatal, atau asma. Untuk masing-masing penyakit kadang berbeda cara proses memaksaknya. Untuk diabetes misalnya, sate dibakar jangan sampai kering dan tidak pake kecap, karena penderita diabetes tidak boleh makan yang manis-manis,” jelas Marno, penjual sate kuda yang di daerah Banyumanik.
Sedang untuk asam urat, Marno menjelaskan, cara memasaknya sama dengan untuk penderita diabetes, hanya saja tetap dibolehkan memakai kecap, begitu pula untuk gatal-gatal dan asma. Namun lanjut Marno, semua kasiat untuk kesehatan itu lebih banyak ditentukan karena motivasi diri. Dia sendiri tidak berani menjamin dengan mengonsumsi sate kuda penyakit yang diderita akan langsung sembuh.
“Kebanyakan saya malah diberitahu pengunjung yang datang ke sini tentang kasiat dari sate kuda. Ada pelanggan yang berasal dari Jogja tapi sudah pindah di Semarang. Sewaktu di Jogja dia mengonsumsi sate kuda untuk mengobati penyakit asma, sekarang setelah pindah di semarang dia menjadi pelanggan tetap di sini,” papar Marno.
Meski banyak dikenal untuk kesehatan, sate kuda sendiri sebenarnya memiliki kelezatan yang tidak kalah dengan sate-sate lainnya. Aromanya pun sangat kuat sehingga langsung menggugah selera mereka yang menciumnya. Bagi yang suka dengan daging yang agak keras bisa memesan sate kuda dengan apa adanya, tapi bagi yang tidak suka bisa memesan daging yang agak lunak.
“Saya menggunakan cara alami untuk melunakkan daging kuda, yaitu dengan buah-buahan. Sedangkan untuk menjaga kesegaran daging saya sengaja menusuk sati per sepuluh porsi. Karena jika daging yang dibeli langsung ditusuk semua, akan mempengaruhi kesegaran daging,” tandas Marno.
Untuk menikmati satu porsi sate kuda di Warung Sate Kuda Marno, pengunjung cukup merogoh uang 13 ribu rupiah. Pengunjung yang ingin mencoba kenikmatan sate kuda bisa datang mulai pukul 16.00 WIB sampai malam hari. “Biasanya kita tutup setelah daging habis. Kita buka tiap hari,” jelas Marno.
Filed under: KULINER